RI Beberkan Kondisi Perekonomian hingga Kemiskinan dalam Pertemuan WTO

Fadel Prayoga, Jurnalis · Jum'at 11 Desember 2020 18:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 11 320 2326038 ri-beberkan-kondisi-perekonomian-hingga-kemiskinan-dalam-pertemuan-wto-ncOSQgCexq.jpg RI Beberkan Kondisi Ekonomi di Pertemuan WTO. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA – Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga memaparkan perkembangan iklim investasi dan transformasi ekonomi Indonesia dalam pertemuan The Seventh Trade Policy Review Of Indonesia atau Review Kebijakan Perdagangan Indonesia Ke-7 di kantor pusat World Trade Organization (WTO) di Jenewa.

Sebagaimana diketahui WTO akan melakukan review kebijakan perdagangan pada setiap negara dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya, mengetahui sejauhmana sebuah negara berkomitmen dan mengembangkan kerangka perdagangan internasional sebagaimana yang telah disepakati bersama.

Baca Juga: Arab Saudi Jagokan Mohammed Al-Tuwaijri Jadi Kandidat Kepala WTO

Sidang review kali ini diadakan secara hybrid, yaitu secara virtual dan fisik mengingat masih dalam masa pandemi.

Wamendag menekankan fundamental ekonomi Indonesia semakin baik sehingga sampai saat ini bisa melakukan mitigasi akibat pandemi dengan cukup baik. Fundamental ekonomi tersebut mencerminkan reformasi ekonomi yang terus dilakukan Indonesia.

Baca Juga: Pengelolaan dan Kepemimpinan yang Baik Dibutuhkan untuk Perbaiki WTO

“Ekonomi Indonesia tumbuh secara konsisten rata-rata 5,1% per tahun dari 2013 sampai 2015 meskipun lingkungan internasional sedang mengalami ketidakpastian. PDB per kapita Indonesia tumbuh cukup signifikan, saat ini mencapai USD3.820 sehingga dinyatakan keluar dari low-middle income trap. Sementara itu tingkat kemiskinan sudah di bawah dua digit sejak tahun 2018 seiring dengan tingkat pengangguran yang ditekan menjadi sekita 5% pada 2019 kemarin,” ujarnya, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/12/2020).

Indonesia tersebut merupakan hasil dari keseluruhan langkah dan kebijakan ekonomi yang berkelanjutan, meliputi: perbaikan iklim investasi, pengembangan daya saing, peningkatan efisiensi sistem logistik, pengembangan pariwisata, dan peningkatan daya beli masyarakat.

Reformasi di berbagai bidang tersebut juga menghasilkan peningkatan kemudahan berusaha di Indonesia. Pada tahun 2014, indeks kemudahan Indonesia berada di peringkat 120. Saat ini posisi Indonesia sudah di peringkat 73. Kenaikan signifikan ini juga akan makin didorong dengan reformasi melalui implementasi Undang-Undang Cipta Kerja yang merupakan Omnibus Law.

“Semua indikator ekonomi Indonesia punya trend yang sangat baik. Kami optimis ke depan, Indonesia bisa mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik lagi.” kata Wamendag.

Lebih lanjut, Perdagangan dan investasi merupakan penopang ekonomi penting bagi Indonesia. Omnibus law diharapkan menyelesaikan masalah-masalah hambatan birokrasi dan regulasi serta melanjutkan pembangunan infrastruktur dan logistik. Tujuannya adalah agar makin banyak investasi masuk dan arus perdagangan menjadi makin lancar. Melalui omnibus law diharapkan makin banyak UMKM tumbuh dan lapangan pekerjaan terbuka lebar.

Dalam perdagangan luar negeri, Jerry menekankan bahwa Indonesia berkomitmen kepada sistem ekonomi terbuka yang menekankan prinsip-prinsip keadilan, inklusifitas dan saling menguntungkan. Ketiga prinsip itu penting agar semua negara bisa berpartisipasi secara setara dan mengambil manfaat optimal dari kerja sama perdagangan luar negeri.

“Perdagangan dan kerja sama antar negara, baik bilateral, regional maupun multilateral harus menekankan tiga prinsip itu: keadilan, inklusifitas dan saling menguntungkan. Itulah yang selalu disuarakan oleh pemerintah Indonesia dan kami konsisten dengan hal tersebut.” Kata Wamendag.

Indonesia menyadari bahwa terjadi perubahan ekonomi politik di lingkungan global yang ditandai oleh menguatnya proteksionisme, pertarungan antar kutub ekonomi politik dunia, dan berbagai hal yang menghambat sistem keterbukaan dalam ekonomi. Tetapi menurut Jerry, Indonesia konsisten dengan sistem yang lebih terbuka dan kolaboratif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini