Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bank Dunia Sebut Ekonomi Indonesia Mulai Pulih tapi Belum Merata

Michelle Natalia , Jurnalis-Kamis, 17 Desember 2020 |12:27 WIB
Bank Dunia Sebut Ekonomi Indonesia Mulai Pulih tapi Belum Merata
Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA – Bank Dunia menilai perekonomian Indonesia secara perlahan mulai pulih seiring dengan dibukanya kembali sebagian ekonomi domestik dan global. Indonesia dan ekonomi global sangat terpengaruh selama kuartal II tahun ini oleh pembatasan mobilitas dan tindakan kesehatan masyarakat lainnya untuk mengatasi pandemi COVID-19.

Pertumbuhan ekonomi global dan perdagangan meningkat selama kuartal III karena negara-negara sebagian dibuka kembali dan mengerahkan dukungan kebijakan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melawan resesi yang disebabkan pandemi.

Baca Juga: Sri Mulyani: Masa Kritis Ekonomi Sudah Lewat

"Perekonomian Indonesia juga tampaknya perlahan pulih (pertumbuhan menyusut sebesar 3,5% yoy pada kuartal ketiga dibandingkan dengan kontraksi 5,3% yoy pada kuartal kedua) yang didorong oleh pemulihan sebagian dalam konsumsi, termasuk peningkatan signifikan dalam belanja publik, investasi dan ekspor neto," tulis Laporan Bank Dunia Desember 2020 pada Kamis (17/12/2020).

Namun dampak krisis masih berlanjut dengan permintaan domestik yang masih jauh lebih lemah dibandingkan sebelum krisis, yakni 2,8% di bawah level 2019 pada September.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Sudah Lewati Masa Krisis

Meski demikian, laju pemulihan tidak merata di semua sektor. Sektor padat kontak, dimana pekerjaan jarak jauh kurang bisa diterapkan dan yang lebih mengandalkan interaksi tatap muka termasuk dengan pelanggan masih terhambat.

"Seperti transportasi, perhotelan, perdagangan grosir dan eceran, konstruksi, dan manufaktur, terpukul sangat keras dan baru pulih sebagian. Sektor-sektor yang kurang padat kontak seperti keuangan, pendidikan, komunikasi, dan telekomunikasi lebih tangguh," tambahnya.

Sektor-sektor yang lebih terkait dengan permintaan luar negeri seperti pertambangan dan manufaktur sebagian terlindungi oleh pemulihan perdagangan dan beberapa harga komoditas dari level terendahnya pada pertengahan tahun 2020.

"Beberapa indikator pasar tenaga kerja secara signifikan lebih lemah daripada sebelum krisis. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bahwa sekitar 5,1 juta orang (2,5% dari populasi usia kerja) telah menjadi pengangguran atau keluar dari pasar tenaga kerja dan 24 juta orang lainnya (11,8% dari populasi usia kerja) bekerja dengan dikurangi jam kerjanya," jelas laporan tersebut.

Tingkat pengangguran naik 1,8 poin persentase menjadi 7,1% dan tingkat setengah pengangguran naik 3,8 poin menjadi 10,2% pada kuartal III dibandingkan tahun sebelumnya. Dari data Bank Indonesia bulan Agustus lalu, antara 35 dan 50% pekerja dilaporkan berpenghasilan lebih rendah dari sebelum krisis.

Respons moneter terhadap krisis sangat kuat tetapi melibatkan risiko keuangan makro yang perlu dikelola. Respons bank sentral yang berani dan ambisius di negara-negara maju dan pasar berkembang telah meredakan kondisi keuangan global dan menstabilkan arus modal.

"Hal ini pada saatnya akan memungkinkan Rupiah pulih dan inflasi tetap rendah di tengah permintaan domestik dan harga energi yang lemah," tukasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement