Indonesia Maju, 90% Tenaga Kerja Berpendidikan Menengah Atas

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 18 Desember 2020 17:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 18 320 2330310 indonesia-maju-90-tenaga-kerja-berpendidikan-menengah-atas-Pd7HErnbZB.jpg Indonesia 2045, Pekerja Berpendidikan Menengah ke Atas. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi Covid-19 berdampak besar pada kondisi angkatan kerja pada 2020. Meski demikian, Kementerian Ketenagakerjaan tetap fokus pada visi Indonesia 2045, di mana ditargetkan 90% angkatan kerja berpendidikan menengah ke atas.

“90% tenaga kerja kita dapat bekerja di lapangan kerja dengan keahlian menengah ke atas. Untuk mendorong produktifitas, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan diharapkan mencapai 65%. Sama seperti Vietnam sekarang,” ucap Direktur Ketenagakerjaan Kementerian Perencanaan Pembangungan Nasional Mahatmi Parwitasari Saronto, Jakarta, Jumat (18/12/2020).

Baca Juga: Beda PHK dan Cuti hingga Besaran Tunjangan yang Diterima Pekerja

Menyadari kondisi dan tantangan target tersebut, strategi yang akan ditempuh pemerintah terdiri dari tiga poin, yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi yang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan keahlian tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, dan mendorong fleksibilitas dan mobilitas tenaga kerja untuk keluar masuk pasar kerja tanpa terdampak besar pada kesejahteraan.

“Untuk poin pertama, pemerintah akan mendorong pemulihan dan transportasi ekonomi dengan memulihkan sektor unggulan seperti industri pengolahan dan pariwisata, pengembangan wilayah pusat pertumbuhan seperti kawasan industri, mendorong investasi, menumbuhkan UMKM,” tutur Mahatmi.

Baca Juga: Kini Lapangan Kerja Mulai Banyak

“Poin kedua, pemerintah akan mendorong perbaikan skill development sistem yang ada sekarang, dengan mereformasi sistem pendidikan dan pelatihan vokasi agar lebih berbasis kerja sama industri termasuk pembenahan informasi pasar kerja,” sambungnya.

Untuk melaksanakan hal tesebut, dibutuhkan kerjasama antar berbagai pihak. Menurut Mahatmi, industri harus menjadi pihak terdepan dalam pengembangan keahlian tenaga kerja.

Intinya adalah bagaimana membuat tiap angkatan kerja dapat menyesuaikan keahliannya dengan industri. Sehingga, tidak tertinggal dalam perubahan lapangan kerja.

Poin ketiga, dilandasi pada proses reformasi ketenegakerjaan untuk menciptakan ketenagakerjaan yang kondusif dengan membenah regulasi dan reformasi sistem perlindungan sosial, reformasi sistem kesehatan nasional, serta perbaikan sistem pendidikan.

“Kita tidak bisa berbicara mengenai angkatan kerja yang lain, jika angkatan kerja kita tidak sehat dan tidak memiliki kemampuan hard skill dan soft skill yang mumpuni. Hal ini didapat dari dunia pendidikan dari sekolah. Untuk mengatasi pengangguran usia muda, strategi di atas bisa didekati dengan dua jalur, kita bekali kaum muda dengan keterampilan bekerja dan keterampilan untuk berwirausaha,” ujarnya.

Pada 2030 diperkirakan hampir 70% penduduk Indonesia akan berada di usia produktif, yaitu usia antara 15 hingga 64 tahun. Pada saat ini adalah titik yang tepat untuk mulai bersama-sama usaha strategis dan bertanggung jawab, yang dapat memanfaatkan bonus demografi agar bisa memberikan manfaat bagi bangsa.

“Kita tidak akan pernah berpikir bahwa bonus demografi akan menimbulkan angka pengangguran yang tinggi. Tantangan untuk itu tidak kecil, sehingga dibutuhkan strategi dan koordinasi di antara para pemangku kepentingan dalam satu kolaborsi sehingga tantangan ini dapat dijawab bersama sama menjadi lebih mudah,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia Business Links (IBL) Yayan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini