Jack Ma Hilang Bak Ditelan Bumi, Ini Pelajaran yang Bisa Dipetik

Michelle Natalia, Jurnalis · Senin 04 Januari 2021 12:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 04 455 2338433 jack-ma-hilang-bak-ditelan-bumi-ini-pelajaran-yang-bisa-dipetik-F9cqzt2u2Z.jpg Jack Ma (Foto: CNBC)

JAKARTA - Miliarder China Jack Ma menghilang usai mengkritik pemerintah China. Bahkan, hilangnya Jack Ma dikabarkan sudah sejak bulan Oktober 2020. Sosial media Jack Ma pun nampak tidak ter-update sejak bulan tersebut.

Baca Juga: Menghilang dari Publik, Jack Ma Batalkan Jadi Juri Acara Televisi 

Menanggapi hal ini, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa apa yang menimpa Jack Ma berkaitan dengan kritiknya terhadap pemerintahan China.

"Sebenarnya kalau melihat dari apa yang dikritikkan, bukanlah sesuatu yang sangat radikal, Jack Ma mendorong adanya perubahan regulasi yang intinya mendukung perusahaan agar bisa berinovasi dan tumbuh," ujar Yusuf saat dihubungi MNC News Portal di Jakarta, Senin (4/1/2021).

Baca Juga: Usai Kritik Pemerintah, Jack Ma Dikabarkan Menghilang Sejak Akhir Oktober 

Kritik yang satunya lagi adalah tentang kondisi perbankan yang dinilai oleh Jack Ma tidak baik. Pada dasarnya, lanjut Yusuf, kritik adalah hal biasa dalam kehidupan berdemokrasi.

Namun memang harus diakui bahwa China menganut sistem pemerintahan semi sosialis dimana memang ada aturan-aturan strict yang melarang warganya untuk menyampaikan kritik pada level tertentu. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru, nilai-nilai demokratis tidak bisa sepenuhnya dilihat di China.

"Adapun pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kasus Jack Ma. Sebenarnya kritik terhadap pemerintah itu merupakan hal yang lumrah. Dalam konteks Jack Ma, justru kritik ini disampaikan untuk mendorong perekonomian China yang lebih baik," ungkapnya.

Seharusnya, menurut Yusuf, ruang-ruang kritik seperti ini bisa membuka mata pemerintah dimana seharusnya mereka melakukan perbaikan. Ketika pemerintah menerima kritik juga harus terbuka, tidak defensif, dan juga dari sisi yang mengkritik perlu menyampaikan kritik secara konstruktif menggunakan data pendukung sehingga diskurusnya bisa bermuara terhadap perbaikan kebijakan yang lebih baik.

'Saya kira pelajaran kritik mengkritik ini memang seharusnya bisa dijalankan pada negara-negara yang menganut sistem demokrasi termasuk Indonesia," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini