Harga Cabai dan Kedelai Selalu Melonjak, Ini Penyebabnya

Fadel Prayoga, Jurnalis · Sabtu 09 Januari 2021 10:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 09 320 2341509 harga-cabai-dan-kedelai-selalu-melonjak-ini-penyebabnya-kDxlNcNEOn.jpg Cabai. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Memasuki tahun 2021, masyarakat diberikan sebuah kado pahit berupa terjadinya lonjakan harga sejumlah komoditas pangan. Salah satu yang menjadi sorotan yaitu, penjualan cabai dan kedelai yang dinilai sudah amat tak wajar.

Pasalnya, kini harga cabai merah saja sudah mencapai Rp100 ribu per kilogramnya di pasar tradisional. Kemudian, kedelai pun yang semula ada di kisaran Rp6.000-Rp7.000-an per kilogram kini naik menjadi Rp8.000-Rp9.000-an per kilogramnya.

Baca Juga: Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu/Kg, Stok di Pasar Langka

Direktur Riset CORE Piter Abdullah menjelaskan, kenaikan atau turunnya harga cabai disebabkan oleh beberapa faktor. Di mana sepanjang tahun 2020 harga cabai rendah disebabkan oleh demand yang menurun akibat pandemi, sementara supply terjaga baik oleh karena adanya supply yang cukup termasuk karena adanya panen raya.

"Seiring pelonggaran PSBB, aktivitas ekonomi mulai berangsur membaik. Resto dan hotel kembali beroperasi dan meningkatkan demand produk-produk pangan termasuk cabai. Di sisi lain supply produk-produk pangan termasuk cabai juga mengalami keterbatasan karena bukan masa panen," ujarnya kepada Okezone, Sabtu (9/1/2021).

 

Sementara itu, Ekonom Indef Bhima Yudhistira menyebut faktor kenaikan harga kedelai ada beberapa, mulai dari pasokan yang terbatas dari Argentina dan Brazil disebabkan faktor cuaca, stok AS pun terus menipis.

Sementara dari sisi permintaan terjadi kenaikan yang signifikan dari China paska pemulihan ekonomi dari covid19. China menguasai 64% dari total permintaan kedelai global.

"Ketika ekonomi pulih, daya beli masyarakat China membaik permintaan kedelai impor juga tinggi. Kedelai banyak digunakan di China untuk pakan ternak. Kenaikan harga bahan baku tempe tahu tentu akan memukul kelas menengah ke bawah. Secara umum tempe dan tahu jadi kebutuhan protein penting," kata dia.

Dia mengimbau sebaiknya Pemerintah harus segera bertindak untuk mengamankan pasokan kedelai impor. Kementerian Perdagangan bisa melakukan komunikasi dengan negara produsen kedelai untuk buat perjanjian secara bilateral.

"Bisa juga lakukan swap misalnya sawit ditukar dengan kedelai, seperti dulu pernah ada barter antara sawit dan suku cadang pesawat," ujarnya.

Selanjutnya, pemerintah harus memastikan tata niaga kedelai di dalam negeri tidak ada permainan untuk spekulasi harga atau menahan pasokan di pasar. Jangan sampai situasi naiknya harga kedelai dimanfaatkan oleh para spekulan dengan tahan stok impor.

"Langkah jangka panjang yang penting adalah mendorong produktivitas dan luasan lahan kedelai dalam negeri. Masalah naiknya harga kedelai jadi pelajaran penting, dalam jangka panjang ketergantungan terhadap kedelai impor harus dikurangi signifikan," ujarnya.

Menurut dia, bantuan pemerintah dan inovasi pangan jangan hanya fokus ke beras tapi juga kedelai lokal.

"Itu masalah stabilitas harga lintas sektor ada menteri pertanian dan menteri perdagangan dan beberapa lembaga lainnya," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini