GeNose C19 yang dikembangkan oleh UGM dengan dukungan dari Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kemenristek/BRIN, Badan Intelejen Negara, TNI AD, Polri, Kemenkes RI, dan pihak swasta antara lain PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri, PT Hikari Solusindo Sukses, PT Stechoq Robotika Indonesia, PT Nanosense Instrument Indonesia, dan PT Swayasa Prakarsa.
"Selain merupakan bagian dari Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 di Kemenristek/BRIN, GeNose C19 menjadi bukti nyata implementasi triple helix yang berjalan cukup mulus. Triple helix merupakan bentuk sinergi dan kolaborasi dari 3 pihak yang mendorong penelitian menjadi inovasi, yaitu Pemerintah, Peneliti, dan Industri," ungkap dia.
Selain itu, kata Bambang hal yang paling penting adalah terwujudnya kolaborasi antar bidang ilmu yang tentunya akan sangat membantu upaya penanganan Covid-19.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono menambahkan bahwa untuk mendapatkan hasil skrining yang lebih akurat lagi GeNose C19 harus terus dilakukan modifikasi dan pembaruan mengingat alat skrining ini berbasis kecerdasan artifisial.
"GeNose C19 merupakan bukti kemandirian bangsa bahwa kita melakukan hal baru dalam inovasi. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan sangat mendukung, namun demikian khusus alat kesehatan perlu diperhatikan uji validasinya yaitu sensitifitas, spesisifisitas, positive predictive value, dan negative predictive value. Dikarenakan GeNose C19 ini adalah kecerdasan artifisial kami harapkan dapat terus dimodifikasi sehingga ketajaman dalam melakukan skrining menjadi lebih sensitif," tandas dia.
(Dani Jumadil Akhir)