LRT Jakarta Rp6,8 Triliun 'Tanpa' Penumpang, Proyek Fase II Dilanjutkan?

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Sabtu 23 Januari 2021 14:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 23 320 2349580 lrt-jakarta-rp6-8-triliun-tanpa-penumpang-proyek-fase-ii-dilanjutkan-EpBEri7P6c.jpg LRT Jakarta (Foto: Dok LRT Jakarta)

JAKARTA - Pro dan kontra soal angkutan umum Light Rail Transit (LRT) Jakarta belum selesai. Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio kembali melontarkan kritikannya terhadap operasional KRL Jakarta rute Kelapa Gading-Velodrome (fase satu) dan rencana pembangunan rute Velodrome-Dukuh Atas (fase dua).

Bahkan, megaproyek Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta digadang-gadang mangkrak karena persoalan pendanaan dan ketidakjelasan kajian akademiknya. Penilaian itu ditujukan untuk rencana pembangunan lanjutan LRT Jakarta.

"Bisa dikatakan bakal mangkrak begitu? Ya anda yang bilang lah, begitu," ujarnya saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Jakarta, Sabtu (23/1/2021).

Baca Juga: Proyek Rp6,8 Triliun, Kini LRT Jakarta Cuma Angkut 102 Penumpang/Hari 

Agus menilai, Pemprov DKI akan mengalami kerugian bila proyek tersebut dilanjutkan. Penilaian itu didasari pada minimnya minat masyarakat yang menggunakan LRT Jakarta.

"Mendingan tidak dilanjutkan, kalau dilanjutkan tambah rugi toh. Itu mau kemana jalannya, kalau LRT Jabodetabek jadi, itu mau ke arah mana? Yang mau naik siapa?" kata dia.

Dia bilang, sejak awal pembangunan LRT Jakarta tahap satu tidak cukup efektif. Sebab, mega proyek itu dinilai minim peminat. Ada sejumlah pertimbangan yang memungkinkan kereta api ringan itu tidak perlu dibangun, salah satunya posisi jalur KRL yang menghubungkan Kelapa Gading-Velodrome.

Selain koridor yang sangat pendek, masyarakat di wilayah Timur Jakarta dinilai lebih memilih moda transportasi lain seperti TransJakarta yang lebih murah dan terjangkau dibandingkan menggunakan memilih LRT.

"Dari awal sudah saya kritisi saat dibangun. Saya selalu tanya yang naik siapa? Cuman segitu buat apa, itukan belum selesai, kan enggak diteruskan, itu kan belum selesai, mana ada yang mau naik. Lebih baik naik sepeda. Terus tiketnya berapa, itukan mahal kereta buatan Korea Selatan. Terus yang mau naik siapa? Balik pokok kapan? Minta subsidi? Kan dari awal saya sudah tanya seperti itu, cari aja di data digital saya. Udah ngomong itu," kata dia.

Saat ini, tingkat okupansi penumpang tidak sesuai target. Angka itu jauh dari rencana awal Pemprov DKI Jakarta saat sebelum moda transportasi integrasi itu dibangun sejak 2015 silam. Rencana awal, okupansi diproyeksikan mampu membawa 14.000 penumpang per hari.

Manajemen PT LRT Jakarta menilai, tingkat keterisian yang tercatat minim itu akibat Pemerintah Pusat memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat pandemi Covid-19 berlangsung. Sebelumnya, kereta mengangkut 900 penumpang dalam sehari.

"Penumpang di masa relaksasi tertinggi 900 penumpang. Jadi, kondisi pada saat kita buka komersial kira-kira 4.500 jadi 22-25% kembali menuju ke normalnya inline dengan kondisi masyarakat di sekitarnya," ujar Direktur LRT Jakarta Wijanarko dikutip pada Kamis (21/1/2021).

Dari pantauan MNC Portal di lapangan pada pekan ketiga Januari 2021, koridor Kelapa Gading-Velodrome sepanjang 5,8 kilometer (km) tersebut hanya didatangi sejumlah penumpang saja. Artinya, okupansi penumpang justru tidak mencapai 102 orang per hari.

Di tempat yang terpisah, pihak PT Jakarta Propertindo (Jakpro) mencatat pendeknya jalur konstruksi LRT Jakarta menjadi penyebab utama minimnya minat masyarakat untuk menggunakan moda transportasi tersebut. Di mana, pada tahap satu pembangunan rute LRT belum menjamah pusat-pusat strategis di Jakarta. Sehingga upaya untuk memaksimalkan tingkat penggunaan belum bisa direalisasikan.

Saat ini koridor LRT hanya mencakup enam stasiun saja yang menghubungkan stasiun Kelapa Gading hingga Velodrome. Direktur Proyek Jakarta International Stadium PT Jakarta Propertindo Iwan Takwin menilai, semakin luas tingkat pelayanan transportasi, maka semakin banyak penggunanya.

"Secara logika karena angkutan transportasi itukan semakin jauh luas pelayanannya, penumpangnya semakin banyak. Jadi semakin luas area pelayanannya maka berbanding lurus dengan jumlah penumpangnya. Pada tahap satu pelayanan koridornya masih minim. Nanti kalau diperpanjang bisa mencakup beberapa area. Tentunya semakin luas area pelayanan, maka okupansi semakin naik," ujar Iwan saat dikonfirmasi.

Dalam kajian pemda DKI, potensi pengguna LRT Jakarta menjadi salah satu poin pertimbangan untuk memperluas rute moda lintas rel terpadu itu. Artinya Pihak Anies Baswedan akan memperluas jangkauan LRT untuk menjamah masyarakat Jakarta.

"Itu yang menjadi salah satu pertimbangan dari konsultan yang melakukan studi saat ini. Jadi perlu untuk menambahkan jalur LRY agar target penumpangnya bisa tercapai. Itu semuanya dilakukan dalam studi konsultan," kata dia.

Saat ini pihak Iwan tengah mengkaji keberlanjutan rencana konstruksi pembangunan rute LRT Velodrome Rawamangun-Dukuh Atas. Kajian itu berupa skema anggaran proyek, kelayakan, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan hal lainnya.

"Skema pembiayaan belum final, kita bersama-sama dengan konsultan, melakukan studi kira-kira dari aspek proyek, keuangan seperti apa itu bisa fleksibel. Nanti Jakpro diminta untuk mencari alternatif pendanaan, apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini," ujar dia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini