Ini Alasan Pentingnya Punya Asuransi di Tengah Covid-19

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 25 Januari 2021 18:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 25 622 2350588 ini-alasan-pentingnya-punya-asuransi-di-tengah-covid-19-zY1dGhPsux.jpg Asuransi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Hampir semua orang di belahan dunia manapun sedang khawatir akan kondisi kesehatannya saat ini. Hal ini dipicu pandemi Covid-19 masih terus melanda berbagai negara hingga awal 2021 sejak tahun 2019 lalu.

Wabah yang menyerang jutaan orang di seluruh dunia itu tak mengenal strata sosial. Dari mulai yang miskin hingga kalangan konglomerat pun harus menghadapi wabah tersebut.

Baca Juga: 6 Cara Menghemat Uang, Bahkan dengan Anggaran Ketat Sekalipun

Lalu, apakah penting mempunyai asuransi di tengah krisis ekonomi akibat yang timbul dari adanya pandemi tersebut?

Menurut Financial Planner Rista Zwestika sebuah mitigasi kesehatan dengan cara mempunyai produk asuransi amat penting di saat ini. Sebab, hingga kini ketidakpastian atas kesehatan masih menghantui seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga: Gaji Dipotong selama Pandemi, Begini 6 Cara Mengatasinya

"Percuma kalau kita banyak duit, tapi kita enggak sehat. Asuransi bukan untuk dibeli, tapi sebuah kebutuhan untuk kita. Karena kita harus bebas melangkah, karena sudah punya mitigasi tadi. Kita sudah tidak khawatir lagi," kata Rista dalam diskusi virtual, Senin (25/1/2021).

Selain itu, yang harus dilakukan adalah kembali mengisi pos dana darurat. Sebab, hampir dipastikan dana darurat banyak yang tersedot akibat keuangan selama tahun 2020 lalu.

 

"Dana darurat. Diatur cash flownya tadi. (Besarannya) 6 kali dari pengeluaran. Sudah menikah kalau belum punya putra-putri 9 kali (dari pengeluaran). Kalau sudah berkeluarga 12 kali dari pengeluaran," ujarnya.

Dia menambahkan, yang perlu diatur lainnya adalah besaran utang. Kata dia, apabila total utang sudah lebih dari 35% dari pendapatan, maka salah satu utangnya itu sudah harus ada yang dilunasi.

"Kalau ada yang bisa kita lunasi, lunasi dulu. Utang tidak boleh lebih dari 35% dari pendapatan kita," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini