Sri Mulyani Optimistis Hadapi Covid-19 di Tahun Ini

Rina Anggraeni, Jurnalis · Rabu 27 Januari 2021 17:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 27 320 2351878 sri-mulyani-optimistis-hadapi-covid-19-di-tahun-ini-sNkStyMLst.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pemerintah memberikan perhatian besar pada penanganan pandemi Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penanganan tersebut diiringi dengan optimisme tinggi terhadap pemulihan dampak pandemi.

"Tahun 2020 fokus utama kita pada penanganan Covid-19, tahun 2021 kita juga tetap menghadapi Covid-19, namun dengan optimisme yang lebih tinggi," ujar Sri Mulyani dalam gelaran Summit Indonesia 2021 (27/1/2021).

Baca Juga: Jokowi Sebut PEN 2020 Berhasil, 2021 Akan Terus Dilanjutkan

Capaian pemerintah atas kebijakan dan paket stimulus ekonomi dan kesehatan di sejumlah sektor menjadi pintu masuk pemerintah di tahun 2021. Sejak 2020, banyak langkah yang sudah dilakukan untuk memberikan fondasi yang cukup baik bagi pemerintah untuk menangani Covid-19 dan memulihkan ekonomi nasional.

Sedangkan sepanjang tahun ini pemerintah akan terus melakukan langkah extraordinary serupa untuk menangani krisis ekonomi dan kesehatan serta dampaknya yang masih menjadi persoalan mendasar bagi Indonesia.

Baca Juga: Negara Maju Dominasi Vaksin Covid-19, Jokowi: Kita Harus Cepat!

Meski begitu, sikap optimisme pemerintah tetap dibarengi oleh kehati-hatian yang tinggi. Artinya, kebijakan pemerinta akan terus didasari pada kondisi dan dinamika di tengah maraknya penyebaran virus Corona.

"Kita tentu berharap dengan capaian 2020 maka kita mampu masuk di tahun 2021 dengan optimisme, meskipun memang tentu tidak boleh lepas dari kewaspadaan karena Covid-19 masih ada dan masih menyebar," kata dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pun kembali menyinggung ihwal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 yang mengalami defisit hingga 6,09 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kenaikan disebabkan karena penerimaan negara hanya mencapai Rp 1.070 triliun. Tentu angka itu lebih rendah 16,7 persen dari tahun 2019.

Rendahnya penerimaan negara dikarenakan adanya tekanan bagi sektor bisnis yang merupakan sumber pajak atau objek pajak. Di sisi lain, belanja negara juga mengalami kenaikan 12,2 persen, yakni mencapai Rp 2.589 triliun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini