Produksi Sawit RI di Bawah Malaysia, Berikut Beberapa Kendalanya

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 28 Januari 2021 19:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 28 320 2352598 produksi-sawit-ri-di-bawah-malaysia-berikut-beberapa-kendalanya-NGqTBRcs3m.jpg Produktivitas Sawit Indonesia. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kepala Pusat Kebijakan APBN Kemenkeu Ubaidi Socheh Hamidi mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir, produktivitas kelapa sawit Indonesia hampir dua kali lebih rendah dibandingkan Malaysia.

Menurutnya, hal tersebut terjadi karena banyak lahan sawit yang belum matang, perawatan dan penggunaan pupuk yang belum optimal serta dukungan pemerintah bagi petani plasma belum sebaik di Malaysia.

Baca Juga: Remajakan 180.000 Hektare Sawit, Menko Airlangga Kucurkan Rp5,56 Triliun

“Ada beberapa tantangan di sektor hulu yaitu keterbatasan lahan dan moratorium perluasan lahan, kesejahteraan perkebun mandiri termasuk isu sengketa lahan, deforestasi dan degradasi lahan. Ini adalah tantangan yang harus dimitigasi risikonya terutama dalam pembuatan kebijakan,” kata Ubaidi, Jakarta, Kamis (28/1/2021).

Baca Juga: Kampanye Anti Kelapa Sawit, Indonesia Buktikan di Sidang WTO

Ubaidi menambahkan, untuk mengatasi tantangan yang dihadapi di sektor hulu sawit, pemerintah sudah menyiapkan program Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Program BPDPKS antara lain pengembangan sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan, hilirisasi industri perkebunan kelapa sawit dan penyedian dan pemanfaatn bahan bakar nabati.

Menurut Ubaidi, program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kinerja sektor sawit Indonesia, menciptakan pasar domestik, menyerap kelebihan CPO di pasar dalam rangka stabilisai harga dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Sementara itu, Program OfficerCenter Tata Kelola Sawit Madani Berkelanjutan, Trias Fetra mengatakan, penggunaan dana perkebunan sawit belum memberikan kesejahteraan bagi petani sawit. Kata dia, dari Rp11 triiliun dana sawit, sekitar 80% digunakan untuk subsidi biodiesel.

Tujuannya, agar produksi biodiesel meningkat sehingga mampu menyerap produksi CPO sehingga mampu mendongkrak harga CPO dan implikasi lainnya meningkatkan harga tandan buah segar sawit.

“Namun, berdasarkan hasil analisis input output, penggunaan dana sawit untuk subsidi biodiesel tidak memberikan nilai mannfaat besar terhadap keseimbangan faktor produksi dibanding menggunakannya untuk program yang berkaitan langsung dengan perkebunan sawit,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini