JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) mencatat sejumlah perusahaan asal Taiwan akan merelokasi asetnya ke wilayah Jabar. Saat ini perusahaan tengah beroperasi di China.
Maka itu, berikut fakta- fakta relokasi pabrik Taiwan ke Jabar yang telah dirangkum oleh Okezone, Minggu (31/1/2021):
1. Kang Emil Persiapkan Tempat Bagi Perusahaan Taiwan
Gubernur Jabar Ridwan Kamil atau Kang Emil menyebut, setidaknya ada 70.000 perusahaan Taiwan yang saat ini beroperasi di China. Meski begitu, dia tidak merinci berapa jumlah perusahaan asing yang akan memindahkan aset atau nilai investasinya di tanah Sunda tersebut.
"Saya sedang mempersiapkan bedol desa dari China yaitu dari Taiwan. Nah saya harus menangkap itu. Salah satunya saya siapkan kota petrochemical di Balongan, Indramayu, di mana, turunannya sangat banyak," ujar dia.
2. Ada 70 Ribu Perusahaan Taiwan di China Bakal Pindah ke Negara Asean
Dari keterangannya, 70.000 perseroan Taiwan, separuhnya dikabarkan akan berpindah ke negara-negara ASEAN lain. Informasi itu dia peroleh saat berkunjung ke Taipei, negara tersebut beberapa waktu lalu.
Sekadar informasi, Balongan adalah satu dari beberapa 13 kota industri baru yang akan dibangun di Kawasan Metropolitan Rebana, Jawa Barat. Ia mengatakan nantinya kota-kota itu akan memiliki warna-warna tersendiri dari negara yang berinvestasi.
3. Perusahaan yang Bakal Masuk di Jabar dari Eropa hingga Amerika Serikat
Misalnya, kawasan Patimban yang mayoritas investasinya dari Jepang, zona halal di lahan RNI yang diminati investor dari Abu Dhabi, serta kawasan Balongan yang ditawarkan kepada investor Taiwan.
"Itu cara saya untuk mengatur agar tidak ada kejomplangan investasi yang terlalu dominan dan ada ketaatan dan komitmen tapi implementasi jangka pendek juga didekati," katanya.
Dari pantauan pihaknya bahwa investor yang masuk ke Jawa Barat mayoritas berasal dari Asia bagian timur, misalnya China, Jepang, hingga Singapura. Dan sedikit investor berasal dari Eropa, Amerika Serikat, maupun Timur Tengah.
"Secara geopolitik pun kepada para duta besar selalu saya ingin seimbangkan. Agar tidak ada yang terlalu dominan sehingga iklim persaingan investasi juga tidak terlalu jomplang. Ini sudah kami lakukan, saya punya peta, negara mana yang perlu didekati," kata dia.