Jadi BSI, Kinerja yang Paling Bagus BSM, BRIS atau BNI Syariah?

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 01 Februari 2021 13:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 01 320 2354376 jadi-bsi-kinerja-yang-paling-bagus-bsm-bris-atau-bni-syariah-ioHulSovSh.jpg Perbankan. Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Tiga bank syariah milik BUMN telah mendapatkan restu untuk digabungkan pada 1 Februari 2021. Nama merger ketiga perbankan tersebut akan menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Adapun kode saham yang akan dipakai di Bursa Efek Indonesia tetap BRIS.

Dengan penggabungan bank syariah tersebut, nantinya aset yang dimiliki mencapai Rp225 triliun. Tak hanya itu, bank syariah ini juga akan memiliki kantor cabang sebanyak 1.200 di seluruh Indonesia. Dengan aset tersebut diharapkan marger ini bisa kompetitif baik di dalam negeri maupun global.

“Dengan bergabungnya ketiga Bank Syariah tersebut maka nantinya total aset yang dimiliki besarnya sekitar Rp225 triliun dengan 1.200 kantor cabang di seluruh pelosok tanah air. Diperkirakan pada 2025 asetnya akan mencapai Rp390 triliun sehingga mampu bersaing secara kompetitif di tingkat nasional, regional, maupun global,” kata Wakil Presiden Ma’ruf Amin kepada media, Jumat (23/10/2020).

Baca Juga: Bank Syariah Indonesia Bisa Percepat Pemulihan Ekonomi, Ini Penjelasannya

Kemudian, menilik dari kesehatan setiap bank siapa yang mempunyai kinerja paling bagus di antara Bank Syariah Mandiri, Bank BNI Syariah dan Bank BRI Syariah? Berikut ulasannya:

1. Bank Syariah Mandiri

PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) berhasil melalui tahun 2020 dengan kinerja yang impresif, di tengah situasi menantang akibat pandemi Covid-19. Capaian positif Mandiri Syariah tercermin dari perolehan laba bersih perusahaan sebesar Rp1,43 triliun per Desember 2020, naik 12,51% dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Direktur Utama Mandiri Syariah Hery Gunardi mengatakan dengan membukukan kenaikan laba bersih, Mandiri Syariah juga mencatat kinerja positif secara keseluruhan dengan pertumbuhan aset, pembiayaan dan dana pihak ketiga (DPK) yang signifikan dengan kualitas pembiayaan yang tetap terjaga. Capaian ini menunjukkan kuatnya tata kelola perusahaan yang dilakukan secara terukur serta sesuai kaidah.

Baca Juga: Bank Syariah Indonesia Siapkan Pembiayaan Rp272 Triliun pada 2025

“Alhamdullilah, kami bersyukur atas semua pencapaian positif sepanjang 2020. Dan tentunya kami berterima kasih kepada seluruh stakeholders, terutama nasabah, serta seluruh pihak yang telah mendukung dan memberi kepercayaan kepada Mandiri Syariah,” ujar Direktur Utama Mandiri Syariah Hery Gunardi di Jakarta, Sabtu (30/1/2021).

Lebih lanjut Direktur Finance, Strategy and Treasury Mandiri Syariah Ade Cahyo Nugroho menjelaskan secara keseluruhan, raihan laba bersih Mandiri Syariah pada 2020 ditopang pertumbuhan pembiayaan dan membaiknya rasio pendanaan murah yang dikelola perusahaan.

Pembiayaan Mandiri Syariah tahun lalu tumbuh 10,43% secara tahunan dari Rp75,54 triliun menjadi Rp83,43 triliun. Kemudian, DPK kelolaan Mandiri Syariah naik 12,80% yoy, dari Rp99,81 triliun menjadi Rp112,58 triliun.

 

Pembiayaan Mandiri Syariah yang tumbuh positif didorong kontribusi kenaikan pembiayaan segmen retail sebesar 18,41% yoy menjadi Rp53,24 triliun. Kinerja positif pembiayaan segmen retail ini didukung produk layanan berbasis emas (cicil emas dan gadai emas) yang naik 32,23% yoy menjadi Rp3,94 triliun dan pembiayaan consumer (pembiayaan mitraguna, pembiayaan pensiunan, pembiayaan kepemilikan kendaraan dan rumah) yang naik 29,13% menjadi Rp39 triliun selama tahun 2020. Adapun untuk segmen corporate banking naik 4,83% yoy menjadi Rp23,43 triliun.

Terkait kualitas pembiayaan, Mandiri Syariah mampu mengimbangi pertumbuhan pembiayaan yang solid sepanjang 2020 dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) yang terjaga, di mana NPF Netto tercatat 0,72% dan NPF gross sebesar 2,51%.

Dalam hal pendanaan, kinerja positif terjadi karena ditopang pertumbuhan dana tabungan hingga 18,73% menjadi Rp47,25 triliun, angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata pertumbunhan tabungan secara nasional yang berkisar di angka 15,65% (oktober).

2. Bank BNI Syariah

PT BNI Syariah catat laba bersih tahun berjalan Rp505,11 miliar di 2020. Capaian tersebut turun 16,25% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp603,15 miliar.

Adapun total aset mengalami kenaikan menjadi Rp55 triliun. Besaran tersebut naik 10,18% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 di Rp49,98 triliun.

Kenaikan aset didukung oleh peningkatan dana pihak ketiga sebesar 9,6% secara yoy menjadi Rp47,97 triliun, dari sebelumnya Rp43,77 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

3. Bank BRI Syariah

PT Bank BRIsyariah Tbk mencatatkan pertumbuhan laba bersih impresif pada triwulan IV-2020 sebesar Rp248 miliar atau naik 235,14% dibandingkan triwulan IV-2019.

Di sisi aset, BRIsyariah tercatat sebesar Rp57,7 triliun pada triwulan IV 2020, meningkat 33,8% dibandingkan triwulan IV 2019. Selain mencatat pertumbuhan laba, pertumbuhan pembiayaan dan dana murah perseroan juga mengalami peningkatan yang signifikan.

Direktur Utama BRIsyariah Ngatari menyampaikan, hingga triwulan IV 2020 BRIsyariah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp40 triliun, tumbuh mencapai 46,24% year-on-year (yoy). Pertumbuhan pembiayaan yang signifikan ditopang oleh segmen Ritel (SME, Mikro dan Konsumer) untuk memberikan imbal hasil yang lebih optimal.

“Alhamdulillah menjelang legal merger tanggal 1 Februari 2021 BRIsyariah tumbuh positif dari sisi laba, asset, pembiayaan,” ujar Ngatari di Jakarta, Jumat (29/1/2021).

Secara rinci, pembiayaan mikro BRIsyariah mencatat pertumbuhan tertinggi. Total pembiayaan mikro yang disalurkan BRIsyariah pada tahun 2020 mencapai Rp10,7 triliun, tumbuh 163% yoy. Pertumbuhan pembiayaan mikro disokong oleh penyaluran KUR yang sesuai target.

Total KUR yang disalurkan BRIsyariah pada tahun 2020 mencapai Rp4,5 triliun. Sekitar 40% penyaluran KUR BRIsyariah diarahkan ke sektor ekonomi produksi. Sementara sekitar 37,7% difokuskan ke sektor ekonomi perdagangan dan sekitar 22% di sektor jasa.

Saat ini, terutama di masa pandemi, penyaluran pembiayaan BRIsyariah juga diutamakan untuk sektor-sektor yang lebih minim risiko, seperti pertanian, peternakan, dan alat kesehatan. Selain mikro, BRIsyariah menyalurkan Rp7,4 triliun pembiayaan untuk segmen kecil dan menengah, tumbuh sebesar 65% yoy.

Pertumbuhan penyaluran pembiayaan juga diiringi perbaikan kualitas pembiayaan. NPF BRIsyariah pada bulan Desember 2020 tercatat 1,7%, turun dibandingkan Desember 2019.

“Kami menargetkan pertumbuhan yang berkualitas lewat penyaluran pembiayaan yang selektif,” ujarnya.

Di sisi dana pihak ketiga (DPK), BRIsyariah mencatat pertumbuhan sebesar 44,61%. “Dana Pihak Ketiga meningkat ditopang oleh pertumbuhan dana murah (giro dan tabungan) sejalan dengan strategi pengendalian beban biaya dana. Peningkatan dana murah yang mencapai mendorong penurunan biaya dana atau cost of fund,” pungkas Ngatari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini