Bakal Jadi 'Raja' Baterai Mobil Listrik, Ini yang Harus Dilakukan RI

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Jum'at 19 Februari 2021 14:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 320 2364851 bakal-jadi-raja-baterai-mobil-listrik-ini-yang-harus-dilakukan-ri-vcY0VmaKBn.jpg Indonesia Punya Potensi Besar Industri Kendaraan Listrik. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Indonesia mempunyai potensi besar untuk menjadi produsen kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Potensi tersebut pun telah dilirik banyak investor asing maupun dalam negeri.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, langkah penting selanjutnya adalah merancang bentuk kerja sama agar pemanfaatan sumber daya yang ada bisa lebih optimal. Di samping itu, konsistensi kebijakan pemerintah juga diperlukan agar pengembangan kendaraan listrik di Tanah Air berhasil.

Baca Juga: RI Tak Perlu Cemas Tesla Pilih India Bangun Pabrik Mobil Listrik

"Sering kali yang menjadi kelemahan kita ada konsistensi kebijakan. Hambatan utama selama ini menurut saya adalah tidak adanya konsistensi kebijakan," ujarnya pada Market Review IDX Channel, Jumat (19/2/2021).

Dia melanjutkan, ketidakkonsistenan kebijakan akan berpengaruh terhadap minat investasi asing. Hal ini membuat investor menjadi ragu untuk berinvestasi di Indonesia karena regulasi yang sering berubah.

Baca Juga: Ini Pertimbangan Investor Sebelum Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik di RI

"Pada awal tahun 2011, kita sangat bersemangat mengembangkan mobil listrik. Tetapi kemudian itu menjadi redup. Pola-pola seperti ini yang harus kita hindari. Jangan sampai kita semangat, kemudian redup lagi," tuturnya.

Sementara itu, keputusan perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla Inc yang memilih membangun pabrik di India memunculkan pertanyaan terkait negosiasi Tesla dengan pemerintah Indonesia. Meski dalam perkembangannya Tesla tidak punya rencana membangun pabrik mobil listrik di Indonesia dan lebih tertarik berinvestasi pada pengembangan sistem penyimpanan energi atau Energy Storage System (ESS).

Piter menuturkan, Tesla bukanlah satu-satunya leader dalam pengembangan kendaraan listrik. Untuk itu, Indonesia tidak boleh berfokus pada satu pihak saja.

"Saya kira tidak kecolongan karena kita tahu sejak awal minat investasi Tesla ke Indonesia bukan dalam bentuk pabrik mobil tetapi dalam bentuk ESS. Kalau itu tidak terwujud juga berarti pemerintah tidak cukup tanggap untuk mengantisipasi investasi Tesla di Indonesia," tandasnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini