Bangun 10 Juta Sambungan Air Minum, Kementerian PUPR Butuh Rp108 Triliun

Aditya Pratama, Jurnalis · Kamis 04 Maret 2021 18:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 04 320 2372441 bangun-10-juta-sambungan-air-minum-kementerian-pupr-butuh-rp108-triliun-zkt1JbYcEu.jpg Sambungan Air Minum Rumah. (Foto: Okezone.com/Thedailymeal)

JAKARTA - Direktorat Air Minum, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) meningkatkan jumlah sambungan baru air minum di Indonesia. Adapun pemerintah menargetkan 100% air layak di 2024.

Direktur Air Minum, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PUPR, Yudha Mediawan mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 kurang lebih terdapat 89,77% sambungan baru dengan gabungan perpipaan dan bukan perpipaan, sehingga, hal tersebut merupakan pekerjaan rumah besar, tantangan dan peluang bagi dunia usaha.

Baca Juga: Resmikan Nongsa D-Town Batam, Airlangga: Ini Jembatan Digital Indonesia-Singapura!

"Kalau dilakukan pendataan, kebutuhan pendanaan sampai kita bisa mendapatkan 10 juta sambungan rumah baru itu Rp108 triliun, kalau berbicara ketersediaan APBN air minum itu Rp7 triliun per tahun sudah bagus, plus kita ambil hibah kurang lebih hampir Rp1 triliun juga ditambah investasi," ujar Yudha dalam Webinar “Our Challenges Are Your Opportunities”, Kamis (4/3/2021).

Yudha menambahkan, dengan tingginya kebutuhan pendanaan sambungan baru air minum sekaligus menjadi peluang sangat besar bagi pelaku usaha dalam pembiayaan penyediaan saluran air minum baru.

Baca Juga: Swasta Garap Proyek Strategis, Erick Thohir: Mereka Punya Keahlian dan Pengalaman

"Acara hari ini dibuat sebenarnya untuk menginformasikan bahwa kita bisa mencari solusi pembiayaan yang cerdas. Jadi cerdas itu macam-macam, bisa menggunakan Keppres 46 pinjaman perbankan dengan subsidi bunga 5 persen, nanti sebagian menggunakan APBN, APBD, DAK, diblended jadi satu itu bisa untuk satu project, atau kalau engga kita menggunakan investasi dan government support atau investasi tanpa dukungan pemerintah," kata dia.

Yudha menyebut, peluang investasi sambungan baru air minum masih terbuka lebar bahkan untuk investor luar negeri, dimana investor luar masih banyak yang belum memahami apa-apa saja proyek investasi di Indonesia.

"Ternyata orang luar negeri gatau tentang apa aja project yang bisa diinvestasi di Indonesia, kita harus lebih agresif untuk memberikan informasi proyek-proyek mana, bukan hanya DKI, orang Jepang taunya air minum hanya DKI, Buaran malah, sementara kita sudah bergerak di Jatiluhur I dan II dan Serpong," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini