Profesor Keuangan dan Investasti IPMI Internasional Bisnis School, Roy Sembel membandingkan kasus yang menimpa BPJamsostek dengan Jiwasraya. Kalau kasus Jiwasraya mulainya lebih dari 1 dekade lalu, karena pengelolaannya miss match dengan data statistik yang ada. Kasus Jiwasraya itu ditenggarai melibatkan pemilihan menejer investasi dengan proses kurang good governance dan trading saham yang goreng-gorengan. Sementara hasil investasi BPJamsostek masih positif.
"Perbedaannya Jiwasraya memang sudah rugi, kalau BPJamsostek masih untung. Pemilihan Menejer Investasi (MI), BPJamsostek ketat, Jiwasraya longgar, karena itu Jiwasraya sedang terdesak," tutur dia.
Alokasi aset BPJamsostek itu hanya 17%, tapi Jiwasraya karena mengejar high risk high return maka lebih besar. Alokasi portofolio BPJamsostek 95% saham LQ45, artinya fundamental dianggap bursa bagus, sementara Jiwasraya saham “goreng-gorengan”. Namanya market turun, apalagi 2020 kuartal 2 dan 3, memang kalau market turun, mau itu saham dengan fundamental bagus, ya tetap turun.
Tapi selama itu belum dijual kembali, itu baru di atas kertas (belum terealisasi), dan kebetulan memang dibuktikan bahwa ketika market naik, maka UL di BPJamsostek juga menurun.
"UL ini dianggap wajar, karena kalau dilihat dari strategi investasinya, aset alokasinya dan tactical alokasinya itu mencerminkan tidak ada hal-hal aneh, kalau ada UL itu artinya market bergejolak. Investasi itu ada potensi returnnya, tapi ada resikonya juga," tandas dia.
(Feby Novalius)