JAKARTA – Sebuah survei mengejutkan datang dari analis di Goldman Sachs. Hasil survei tersebut memperlihatkan lingkungan kerja di bank investasi tersebut yang buruk, di mana para analis junior harus bekerja rata-rata lebih dari 95 jam tiap minggu dan kerap mendapatkan perlakuan tidak pantas di tempat kerja.
Dikutip dari CNN Business, Sabtu (20/3/2021), survei tersebut dilakukan 13 analis tahun pertama Goldman Sachs. Mereka mengungkapkan hanya tidur lima jam dalam sehari dan mayoritas dari mereka merasa kesehatan mental memburuk sejak mulai bekerja di Goldman Sachs.
Baca juga: Gali Minat dan Kemampuan untuk Merintis Usaha dari Rumah
100% responden mengatakan jam kerja mereka merusak hubungan mereka dengan teman dan keluarga. Sekitar tiga perempat analis mengatakan bahwa mereka merasa telah menjadi korban pelecehan di tempat kerja dan telah mempertimbangkan untuk mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental.
"Tubuh saya secara fisik sakit sepanjang waktu dan secara mental saya berada di tempat yang sangat gelap," tulis seorang analis dalam survei tersebut.
Baca juga; Kisah Ade Nurhayati, Sukses Jual Makaroni Sampai Bisa Beli Rumah
Selain itu, mayoritas analis merasakan tekanan “tenggat waktu yang tidak realistis” dan merasa terkucilkan di dalam rapat. Para analis tersebut sebelumnya mengharapkan jam kerja tepat 9-5, namun hal tersebut tidak terjadi bahkan mereka memohon jam kerja mereka bisa dibatasi 80 jam seminggu.
Pihak bank mengaku telah mendengarkan kekhawatiran karyawannya dan sedang membahas solusi terbaik dari permasalahan tersebut.