Neraca Dagang Surplus USD2 Miliar, Industri Manufaktur Masih Perlu Ditingkatkan

Fadel Prayoga, Jurnalis · Selasa 23 Maret 2021 17:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 23 320 2382824 neraca-dagang-surplus-usd2-miliar-industri-manufaktur-masih-perlu-ditingkatkan-tbATev0Zhk.jpg Neraca Perdagangan Surplus pada Februasi 2021. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2021 surplus sebesar USD2,01 miliar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rincian nilai ekspor sebesar USD15,27 miliardan nilai impor USD13,26 miliar.

Terkait hal ini, pemerintah diminta tidak berpuas dengan kinerja neraca perdagangan yang sejak Januari hingga Februari 2021 terus menunjukkan surplus. Hal ini karena data kinerja neraca perdagangan belum optimalnya industri pengolahan nasional memanfaatkan kapasitas produksi sebagaimana terlihat dari penurunan nilai impor non migas, khususnya untuk sektor mesin dan peralatan mekanis.

Baca Juga: 7 Fakta Neraca Perdagangan RI Surplus USD2 Miliar, Ekspor Menggeliat

Ekonom I Made Adnyana mengatakan, surplus USD2 miliar pada neraca perdangan Februari 2021 menjadi tren positif sejak Mei 2020. Namun perlu disoroti terkait data impor non migas yang sudah membaik di posisi USD11,78 miliar namun masih belum pulih dari posisi Desember sebesar USD12,96 miliar.

“Dibanding Januari 2021, volume impor mesin dan peralatan mekanis masih mengalami penurunan (-2,62%) demikian juga nilainya (-4,21%). Ini menunjukkan sektor industri manufaktur masih belum optimal menyerap bahan baku untuk ekspor,” kata Adnyana, Jakarta, Senin (22/3/2021).

Baca Juga: Ekspor-Impor Turun, Sri Mulyani: Kita Perlu Membenahi Diri

Diakui Adnyana, industri pengolahan masih memberikan kontribusi ekspor terbesar yaitu USD12,15 miliar (79,57% dari total ekspor) dan menunjukkan kenaikan 1,38% dibanding Januari 2021. Namun kalau dirinci lebih dalam sesuai sub sektor terlihat adanya kecenderungan penurunan kontribusi dari sektor industri pengolahan, seperti lemak dan minyak/hewan nabati (-30,30%), mesin dan peralatan mekanis (-4,35%), alas kaki (-1,63%), dan logal mulia, permata/perhiasan (-1,54%).

Dirinya juga menyoroti menurunnya ekspor berbagai produk kimia yang angkanya cukup tinggi yaitu minus 24,94% dari sisi volume dan minus 25,48% dari sisi nilai. Demikian pula besi dan baja yang turun cukup tinggi, yaitu 11,43% (volume) dan 14,95% (nilai).

Adnyana mengingatkan agar hati-hati dalam membaca data statistik karena nilai surplus tidak selalu memberikan kabar gembira, sebagaimana data BPS Februari 2021, yang secara tidak langsung menunjukkan data belum pulihnya kontribusi sektor industri manufaktur.

Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, neraca perdagangan surplus sangat menggembirakan dikarenakan volume sektor ekspor yang tumbuh.

"Kenaikannya ini menggembirakan karena sektor perdagangan kita ini terjadi pada perkebunan dan pertanian hingga dua digit," ujar Suhariyanto dalam video virtual, Senin (15/3/2021).

Kata dia, ekspor bulan Februari didominasi oleh industri pengolahan yang tumbuh 1,38% (mtm) didorong besi baja, kendaraan motor, logam dasar mulia dan kimia dasar organik dari hasil pertanian.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini