BI: Perbaikan Ekonomi Global Terjadi Tak Merata

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Kamis 25 Maret 2021 14:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 25 320 2383882 bi-perbaikan-ekonomi-global-terjadi-tak-merata-MXsr9758cG.jpg ilustrasi perekonomian (Shutterstock)

JAKARTA – Bank Indonesia menyebutkan, bahwa perekonomian global sudah mulai menunjukkan perbaikan. Terutama dipimpin oleh Amerikat Serikat (AS), Tiongkok, dan India.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Riza Tyas menuturkan, perbaikan pertumbuhan ekonomi tersebut terjadi secara tidak merata.

 Baca juga: Sri Mulyani: Covid-19 Luar Biasa, Negara Paling Kaya Sampai Terperosok

“Jadi beberapa di negara maju sendiri misal Eropa meski pun sudah mengalami perbaikan tetapi masih belum secepat kalau misalnya dibandingkan dengan Amerika. Akselerasi pertumbuhan sementara Emerging Market (EM) relatif masih lebih gradual perbaikannya dibandingkan dengan negara maju,” tuturnya dalam acara Pelatihan Wartawan Ekonomi Triwulan I – 2021 Bank Indonesia secara virtual, Kamis (25/3/2021).

Riza menjelaskan, perbaikan ekonomi global yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Tiongkok menyebabkan volume perdagangan dunia membaik dan berbagai harga komoditas juga mengalami peningkatan.

 Baca juga: Ekonomi Dunia Diprediksi Tumbuh 5,6%, Sri Mulyani: Biasanya Ada Revisi Lagi

“Yang sudah terjadi dari mulai tahun lalu terus mengalami peningkatan sampai dengan sekarang. Harga minyak pun mulai bulan Desember sudah mengalami peningkatan yang cukup besar. Sekarang berada di sekitar level 60-an daripada sebelumnya minyak berada di level 40-an,” jelas dia.

Lanjutnya, perbaikan perekonomian yang terjadi secara tidak merata menyebabkan naiknya ketidakpastian secara global. Hal ini yang kemudian direspons oleh pelaku pasar.

“Ketika berbagai data ekonomi Amerika menunjukkan perbaikan yang ternyata lebih tinggi daripada perkiraan semula, maka pasar merespons dengan cukup sensitif. Ditandai dengan kenaikan US yield yang lebih tinggi, kemudian USD yang menguat, dan kemudian berakibat pada pelemahan mata uang dan yield di negara-negara berkembang,” ujar Direktur DKEM BI tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini