Penyerapan Gas dengan Harga USD6/Mmbtu Belum Optimal

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 26 Maret 2021 10:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 26 320 2384372 penyerapan-gas-dengan-harga-usd6-mmbtu-belum-optimal-GN6SxYxj4s.jpg Penyerapan Gas Belum Optimal. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) akan meninjau ulang industri penerima insentif penurunan harga gas menjadi USD6 per MMBTU. Mengingat hingga saat ini penyerapan gas belum optimal.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Tutuka Ariadji menyayangkan insentif harga gas sebesar USD6 per MMBTU belum membuat penyerapan gas optimal. Oleh karena itu, pihaknya akan akan melakukan evaluasi dengan Kementerian Perindustrian terhadap kebijakan insentif harga gas yang telah berjalan hampir satu tahun.

Baca Juga: Pengendalian Impor dan Penurunan Harga Gas Bikin Utilisasi Produksi Industri Naik 67,5%

"Memang kami ini perlunya koordinasi yang baik dengan Kemenperin bahwa industri yang menyerap gas khusus melaporkan dampaknya selama setahun ini,” ujarnya dalam keteranganya, Jumat (26/3/2021).

Sebagai gambaran, realisasi penyerapan gas atas pelaksanaan Kepmen ESDM Nomor 89 K/10/MEM/2020 Tahun 2020 tentang penurunan harga gas sektor industri mencapai 229,4 BBTUD. Angka ini baru 61% dari alokasi yang ditetapkan.

“Kalau 100% tidak terserap melaporkan masalahnya apa, sangat di sayangkan. saya perlu setuju melakukan evaluasi dengan kemenperin," ucap Tutuka.

Baca Juga: Begini 4 Jurus Kurangi Candu Impor LPG

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR Ratna Juwita Sari mengatakan, masih banyak industri yang mendapat insentif harga gas USD6 per MMBTU akan tetapi penyerapannya masih belum optimal optimal. Kondisi ini membebani produsen dan pemasok gas yang sudah mengurangi keuntungannya agar harga gas bisa turun.

"Kami melihat banyak perusahan yang mendapatkan dispensasi terkiat harga gas ini malah seperti tidak memaksimalkan performance mereka, malah mereka membebani," ucapnya.

Sementara itu, anggota Komisi VII DPR lainya yakni Ridwan Hisjam pun mengusulkan agar pemerintah mengevaluasi kembali penerima insentif harga gas sebesar USD 6 per MMBTU. Sehingga diharapkan kebijakan tersebut bisa tepar sasaran.

"Perlu ditinjau kembali apakah yang sudah ditetapkan pemerintah ini tepat sasaran," ucapnya.

Menurut Ridwan, masih ada industri yang belum mendapat insentif harga gas USD6 per MMBTU membeli gas dengan harga pasar, sampai saat ini masih mampu menjalankan kegitan produksi. Oleh karena itu, dirinya mendorong agar industri yang mendapatkan insentif penurunan harga gas memanfaatkannya dengan mengoptimalkan penyerapan gas.

"Industri yang dapat subsisid ini juga memanfaatkanlah. Banyak indusrti yang datang dapat dari harga pasar dari industri yang dapat prioritas ada selisih USD2, industri yang nggak dapat mereka jalan nggak ada masalah," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini