Cara Mengatur Keuangan Pribadi, Kendalikan Pengeluaran

Fariza Rizky Ananda, Jurnalis · Kamis 08 April 2021 18:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 622 2391567 cara-mengatur-keuangan-pribadi-kendalikan-pengeluaran-EDrHEw6Rdq.jpeg Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA Cara mengatur keuangan pribadi wajib dimiliki. Strategi mengelola keuangan pribadi yang baik dibutuhkan oleh semua orang. Hanya saja, tidak jarang orang kesulitan dan belum memiliki pengalaman dalam mengatur keuangannya tersebut, terutama bagi yang baru terjun di dunia kerja.

Ketika sudah memiliki pemasukan, orang memiliki tanggung jawab penuh untuk mengatur kebiasaannya dalam membelanjakan uangnya sendiri. Perencana Keuangan Eko Endarto mengatakan strategi utama dalam pengelolaan keuangan adalah mengendalikan pengeluaran.

Baca Juga: Cara Mengelola Keuangan Usaha Kecil, Pelajari Hal Ini

“Pengeluaran tidak bisa dikendalikan, sedangkan pemasukan bisa. Jadi harus tau kapan dan berapa masuknya. Sedangkan pengeluaran jika tidak diatur maka berapa pun yang masuk akan habis,” terang Perencana keuangan Eko Endarto kepada Okezone, Kamis (8/4/2021).

Itu sebabnya, penting untuk seorang individu mengelola keuangan dengan baik dan kuasai pengeluaran melalui beberapa cara ini. Berikut ulasannya.

Baca Juga: Cara Menghentikan Kebiasaan Berhutang, Cek di Sini

Sehatkan keuangan, berpikir untuk masa depan

Eko menegaskan, untuk mengelola keuangan yang baik seseorang harus berpikir untuk kepentingan masa depan, tidak hanya memikirkan kebutuhan di masa sekarang saja.

“Orang harus berpikir untuk masa depan, uang itu sebenarnya bisa habis sekarang tapi ingat sebagai pribadi kita punya waktu produktif, ketika tidak bisa produktif tidak ada yang bisa membantu kita selain diri kita sendiri. Jadi ketika produktif, berpikir untuk masa depan, supaya ketika tidak produktif kita masih bisa hidup,” tegas Eko.

Perencana Keuangan Agustina Fitria juga menyarankan untuk tidak menghabiskan semua pemasukan untuk konsumsi, melainkan sisihkan untuk dimasukkan ke dalam tabungan.

“Supaya bisa punya keuangan yang sehat paling tidak uang pemasukan tidak habis semuanya untuk konsumsi, seminimal mungkin disisihkan 10% dari penghasilannya untuk tabungan,” kata Agustina.

Buat prioritas dalam pengeluaran

Menurut Eko, langkah pertama untuk mengelola pengeluaran adalah dengan menentukan prioritas pengeluaran. Hal tersebut berguna agar pengeluaran paling mendesak bisa diutamakan, sehingga orang bisa berpikir dua kali untuk pengeluaran yang tidak terlalu penting.

“Pertama, harus buat prioritas dalam pengeluaran, apa yang harus diutamakan, lalu tentukan pengeluaran nomor dua, tiga, dan selanjutnya,” kata Eko.

Miliki tabungan dana darurat

Tabungan hasil penyisihan dari pemasukan bisa digunakan sebagai dana darurat, untuk memastikan keuangan terjamin ketika situasi darurat yang tidak bisa dikendalikan. Agustina Fitria menjelaskan minimal seseorang harus punya dana darurat sebesar 3x kebutuhan tiap bulannya.

“Tabungan paling dasar ya untuk dana darurat. Kalau masih single minimal untuk 3 bulan bertahan hidup. Misal dia tiap bulan habis Rp5 juta, berarti minimal banget dia punya dana darurat Rp15 juta di tabungannya. Kalau lagi ada situasi darurat, uang ini bisa dipakai untuk hidup 3 bulan sambil dia memperbaiki sumber penghasilannya,” jelas Agustina

Selain dana darurat, setiap orang juga harus siapkan proteksi untuk kesehatan, misalnya BPJS atau asuransi swasta lainnya.

Rencanakan investasi jangka panjang

Setelah memiliki dana darurat, seseorang juga dianjurkan untuk tetap menyisihkan pemasukannya. Tentukan tujuan jangka panjang, misalnya untuk membeli aset seperti rumah, atau untuk investasi jangka panjang lainnya.

Menurut Agustina, alokasi untuk investasi bisa sisihkan 10% dari pemasukan, jika ada tanggungan cicilan diusahakan tidak lebih dari 35% dari pemasukannya.

“Kalau sudah ada dana darurat, tetap rutin sisihkan buat kebutuhan mendatang, contohnya buat menikah atau mau beli rumah. Kalau bikin anggaran, patokannya itu minimal 10% untuk tabungan investasi, kalau yang harus nyicil-nyicil maksimal itu 35% dari penghasilan dia. Kalau dia tidak suka nyicil atau utang, lebih bagus berarti uangnya bisa ditambah untuk tabungan atau investasi,” ujar Agustina.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini