Surplus Neraca Perdagangan Perlu Diwaspadai, Kenapa?

Michelle Natalia, Jurnalis · Sabtu 17 April 2021 12:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 17 320 2396230 surplus-neraca-perdagangan-perlu-diwaspadai-kenapa-xHxPCIXFJF.jpg Ekspor-Impor Perdagangan di Pelabuhan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Kinerja ekspor Indonesia mengalami peningkatan hampir seluruh komponen pembentuk. Terutama volume total pesanan, volume persediaan barang jadi, dan volume produksi yang berada dalam fase ekspansi.

Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad mengatakan yang perlu diperhatikan adalah surplus neraca perdagangan pada Maret 2021 perlu diwaspadai dan diperhatikan secara berhati-hati. Lantaran, pertumbuhan volume perdagangan sebenarnya lebih rendah daripada nilai komoditasnya sehingga terdapat kenaikan harga di tingkat produsen.

Baca juga: Surplus Neraca Dagang Kerek IHSG ke Zona Hijau

"Volume komoditas manufaktur yang lebih rendah dari nilainya seperti produksi manufaktur pada mesin industri dan peralatan listrik," kata Kamrussamad di Jakarta, Sabtu (17/4/2021).

Dengan mengikuti tren yang terjadi, kegiatan ekspor dan impor mengalami peningkatan yang signifikan pada periode menjelang Ramadhan dan hari raya Idul Fitri yang dikhawatirkan adanya libur panjang sehingga industry mengirim muatan hasil produksinya terlebih dahulu.

Baca juga: Neraca Dagang Maret Diproyeksi Surplus USD1,55 Miliar

Surplus neraca perdagangan pada Maret 2021 disebabkan oleh surplus dengan Amerika Serikat, Filipina, dan India dengan masing-masing sebesar USD1,33 miliar, USD592,1 juta dan USD502,4 juta. Sedangkan, kontribusi defisit terbesar berasal dari Australia, Korea Selatan, dan Thailand dengan nilai masing-masing sebesar USD503,5 juta, USD546,8 juta, dan USD281,1 juta.

“Di sisi lain, peningkatan ekspor yang tinggi, tercermin surplus pada neraca perdagangan menunjukkan bahwa ekonomi eksternal secara agregat mengalami pemulihan secara cepat terutama pada negara-negara utama mitra dagang Indonesia," katanya.

Sementara itu, kinerja impor masih terkontraksi yang disebabkan oleh pemulihan ekonomi domestik masih relatif lambat. Percepatan program vaksinasi COVID-19 dan pembiayaan infrastruktur dipercaya akan mendorong dalam meningkatkan permintaan domestik dan keyakinan konsumen akan optimisme terhadap situasi ekonomi ke depan.

"Fokus pemerintah terhadap UMKM harus terus diberikan terkait pada program pembiayaan sehingga dapat mendorong peningkatan produksinya untuk dapat melakukan ekspor sehingga dapat memberikan kontribusi dalam penerimaan negara," bebernya.

Peningkatan ekspor Janauri-Februari 2021 ke beberapa negara Kawasan Asia Pasifik menunjukkan pentingnya Kawasan tersebut bagi Indonesia. Pembukaan market akses melalui kerja sama perundingan perdagangan internasional khususnya di negara kawasan Asia Pasifik seperti Indonesia-Australia CEPA yang telah diimplementasikan pada Juni 2020 serta Indonesia-Korea CEPA yang baru saja ditandatangani Desember tahun lalu memegang peranan penting bagi perluasan pasar ekspor Indonesia.

"Kenaikan impor barang modal diharapkan menjadi sinyal kegiatan industry dan investasi di dalam negeri yang mulai bergerak membaik. Produksi yang dimaksud seperi alat angkut untuk industri, mobil penumpang, dan barang modal kecuali alat angkutan," tandasnya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini