Ekonomi Dunia Pulih Lebih Cepat, Gubernur BI Beberkan Buktinya

Rina Anggraeni, Jurnalis · Rabu 21 April 2021 08:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 21 320 2398176 ekonomi-dunia-pulih-lebih-cepat-gubernur-bi-beberkan-buktinya-NTsWh1XnRO.jpg Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: Okezone.com/Bank Indonesia)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan perekonomian global tumbuh lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya, dengan proses pemulihan yang semakin tidak merata antarnegara.

Gubuernur BI Perry Warjiyo mengatakan, perkembangan tersebut terutama didorong perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang berlangsung lebih cepat dibandingkan negara lainnya.

Baca Juga: BI: Perbaikan Ekonomi Global Terjadi Tak Merata

"Di AS, perbaikan ekonomi diprakirakan semakin kuat, sejalan dengan proses vaksinasi yang berjalan lancar dan tambahan stimulus fiskal yang lebih besar," kata Perry dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (21/4/2021).

Di Tiongkok, pemulihan ekonomi yang lebih tinggi ditopang oleh perbaikan permintaan domestik dan global. Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia merevisi prakiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2021 menjadi 5,7%, lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya sebesar 5,1%.

Baca Juga: Sri Mulyani: Covid-19 Luar Biasa, Negara Paling Kaya Sampai Terperosok

"Pemulihan ekonomi global yang lebih tinggi terkonfirmasi oleh perkembangan sejumlah indikator dini pada Maret 2021, seperti Purchasing Managers' Index (PMI), keyakinan konsumen, dan penjualan ritel di beberapa negara yang terus meningkat," katanya.

Sejalan dengan perbaikan ekonomi global tersebut, volume perdagangan dan harga komoditas dunia terus meningkat, sehingga mendukung perbaikan kinerja ekspor negara berkembang yang lebih tinggi, termasuk Indonesia. Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan dan volatilitas yield UST masih berlangsung seiring dengan lebih baiknya perbaikan ekonomi di Amerika Serikat dan persepsi pasar terhadap arah kebijakan The Fed.

"Perkembangan ini berpengaruh terhadap aliran modal masuk ke sebagian besar negara berkembang yang lebih rendah, dan berdampak pada tekanan mata uang di berbagai negara tersebut, termasuk Indonesia," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini