5 Tantangan Ekonomi Syariah Versi Ketua OJK

Aditya Pratama, Jurnalis · Jum'at 23 April 2021 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 23 320 2399711 5-tantangan-ekonomi-syariah-versi-ketua-ojk-2R4zQpM8Qf.jpg Ekonomi Syariah (Shutterstock)

JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso menyebut terdapat lima tantangan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Hal tersebut mulai dari market share perbankan syariah yang rendah hingga terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) untuk pengembangan sektor syariah.

Wimboh mengatakan, tantangan pertama adalah market share perbankan syariah Indonesia yang saat ini masih rendah dibandingkan dengan perbankan konvensional.

 Baca juga: Warga +62 Kian Minati Investasi Keuangan Syariah

"Sekarang ini kalau kita lihat faktanya bahwa dari ukuran ternyata market share masih 9,96 persen dari total produk keuangan kita yang ditawarkan kepada masyarakat," ujar Wimboh dalam acara Sarasehan Industri Jasa Keuangan 'Peran Sektor Keuangan Syariah dalam Mengakselerasi Pemulihan Ekonomi di Jawa Tengah' secara virtual, Jumat (23/4/2021).

Tantangan kedua, competitiveness produk dan layanan keuangan syariah yang masih rendah. Menurutnya hal ini terjadi diakibatkan akses produk yang terbatas, dimana harga produk yang kurang kompetitif dan kualitas yang lebih rendah.

 Baca juga: Wapres Minta E-Commerce Bantu UMKM Syariah Jualan Online

"Ya tadi mungkin saja salah satunya karena memang mungkin produk syariah ga ada, yang ada non syariah. Atau mungkin mahal atau mungkin kualitasnya kalah bagus, sehingga (masyarakat) tidak milih produk syariah," kata dia.

Tantang ketiga, tingkat permodalan yang terbatas. Menurutnya, 6 dari 14 bank syariah di Tanah Air memiliki modal inti di bawah Rp2 triliun. Bahkan, bank hasil merger dari tiga bank syariah BUMN yang terdiri atas PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah m menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk nilai asetnya masih kalah jauh ketimbang perbankan konvensional.

"Ini (Bank Syariah Indonesia) pun belum betul-betul pemain nomor satu di Indonesia. Masih nomor tujuh dari aset size setelah digabung itu," ucapnya.

Tantangan keempat, literasi keuangan syariah yang masih rendah dibandingkan konvensional, yakni baru mencapai 8,93 persen dan tantangan kelima yaitu terbatasnya kualitas SDM yang mumpuni untuk mendukung pengembangan sektor syariah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini