Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Beralih ke Energi Terbarukan, Pembiayaan Proyek Minyak Cs Makin Susah

Rina Anggraeni , Jurnalis-Senin, 26 April 2021 |12:36 WIB
   Beralih ke Energi Terbarukan, Pembiayaan Proyek Minyak Cs Makin Susah
EBT (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang sangat besar dan beragam. EBT mulai dari tenaga air, angin hingga matahari namun pemanfaatannya masih belum maksimal.

Tercatat, hingga akhir 2020, total kaapsitas listrik berbasis EBT mencapai 10,5 GW, dengan kapasitas terbesar dari tenaga air sebesar 6,1 GW dan panas bumi 2,1 GW.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, lembaga penyedia dana semakin mudah mendanai proyek-proyek energi ramah lingkungan daripada proyek berbasis energi fosil. Sekadar informasi proyek energi fosil seperti minyak bumi, gas bumi dan batu bara.

"Biaya teknologi EBT semakin murah membuat EBT menjadi lebih kompetitif. Kita lihat sumber dan akses pembiayaan semakin sulit untuk fosil dan memudahkan untuk EBT," ujar Airlangga dalam video virtual, Senin (26/4/2021).

Baca Juga: Menko Luhut Sebut RI Tak Lama Lagi Tinggalkan Energi Fosil

Dia menjelaskan, pasar global mulai menilai produk hasil industri yang memiliki catatan carbon footprint yang rendah. Carbon footprint ialah jumlah gas efek rumah kaca termasuk karbon dioksida dan gas metana dari suatu kegiatan.

"Produk industri pengolahan dilihat dari hasil listriknya, sumber energi listrik dari fosil jadi tidak lebih menjanjikan daripada EBT. Hal ini tentu berdampak pada ekspor hasil produk industri pengolahan," katanya.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement