Jilbab China Rp2.000 Bikin Industri Lokal Menderita, Ini Tarif Safeguard Impor Garmen

Ferdi Rantung, Jurnalis · Selasa 27 April 2021 11:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 27 320 2401415 jilbab-china-rp2-000-bikin-industri-lokal-menderita-ini-tarif-safeguard-impor-garmen-qWYMDZ5EpA.jpg Ilustrasi Jilbab (Foto: Aquila)

JAKARTA - Kementerian Perindustrian tengah mengusulkan sejumlah tarif safeguard untuk sejumlah produk pakaian impor. Proses penetapan safeguard ini hanya tinggal satu tahap lagi. Tarif safeguard untuk melindungi produk garmen dalam negeri dari serbuan impor,

"Prosesnya masih rekomendasi dari Kementerian Perdagangan ke Kementerian Keuangan. Masih ada satu tahapan lagi di Kemenkeu, baru dapat ditetapkan oleh Menteri," kata Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Elis Masitoh di Jakarta, Selasa (27/4/2021)

Namun, Elis mengungkapkan dalam mengusulkan pengenaan tarif ini tidaklah mudah. Pasalnya banyak penolakan dari berbagai lembaga terkait.

Penolakan bersumber dari merek - merek global yang ada di Indonesia. Merek global itu, kata Elis, mengaku keberatan karena membuat harga produk by mereka menjadi lebih mahal.

Baca Juga: Siap-Siap! Harga Baju Impor Akan Lebih Mahal 

Menurutnya, bagi masyarakat yang suka membeli produk branded, jika hanya ditambahkan Rp79.000 misalnya, pasti akan tetap dibeli.

"Misalnya merek global, yang harga awalnya Rp1.500.000, kemudian naik jadi Rp1.579.000, pasti tidak akan pengaruh tetap aja dibeli. Kecuali kalau murah head to head dengan harga produk dari China, nah itu akan berpengaruh besar," terangnya

Dia menambahkan penentuan besaran tarif safeguard yang diusulkan berdasarkan dari perbedaan rata-rata harga impor dengan harga jual di dalam negeri. Kemenperin tidak memilih untuk mengusulkan secara persentase.

"Kalau pakai persentase untuk garmen itu sulit, karena yang murah akan tetap dikenakan harga rendah.Sementara dengan harga rata-rata impor, kemudian harga jual di dalam negeri. Nah, perbedaan harga jual di dalam negeri dengan harga rata-rata impor tersebut dihitung perbedaannya berapa, itulah tarifnya," katanya.

Contohnya saja untuk produk T-shirt, diusulkan tarif yang dikenakan sebesar Rp 27.000 pada setiap produk impor.Dengan adanya tarif tersebut maka harga produk T-shirt yang ada dipasaran bisa bersaing dengan produk nasional

"Ketika ada atasan casual impor dari China misalnya, masuk dengan harga Rp20.000, dikenakan safeguard Rp27.000, harga yang masuk ke Indonesia menjadi Rp47.000. Produsen dalam negeri pasti bisa membuat harga baju segitu, sehingga bisa bersaing," kata Elis.

Tak hanya itu,ada produk lainnya yang dikenakan tarif cukup besar. Misalnya saja produk outer seperti jaket. Kemenperin mengusulkan tarif safeguard sebesar Rp63.000 per buah.

"Kami sebenarnya mengusulkan lebih tinggi lagi yaitu Rp79.000 untuk outer. Tapi kemudian direvisi," katanya.

Selain itu, tarif safeguard juga dikenakan untuk busana muslim. Menurut Elis, banyak ditemukan produk impor busana muslim dengan harga sangat murah di pasar tanah air.

Untuk produk headwear atau hijab, tarif yang diusulkan adalah Rp19.800. Sementara untuk produk gamis, sebesar Rp59.000.

"Untuk harga dari impor hijab itu Rp2.000, sementara produk hijab IKM di Zoya atau El Zatta kan Rp78.000. Jadi, bagaimana IKM bisa bersaing kalau produk impornya saja harganya dijual Rp3.000 sampai Rp6.000," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini