Sri Mulyani Sebut Tantangan Pemulihan Ekonomi 2022 Masih Berat

Antara, Jurnalis · Selasa 04 Mei 2021 14:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 04 320 2405436 sri-mulyani-sebut-tantangan-pemulihan-ekonomi-2022-masih-berat-RRQqBvZhKN.jpg Sri Mulyani (Foto: Dok Kemenkeu)

Selanjutnya, pemulihan dari beberapa negara besar dalam perekonomian seperti China, Amerika Serikat dan Eropa akan membuat harga komoditas mengalami peningkatan yang sangat kuat.

“Ini seperti yang terjadi 2009 di mana akan memunculkan boom komoditas yang harus diantisipasi baik positif maupun negatifnya,” ujarnya.

Menurut dia, berbagai faktor eksternal tersebut akan sangat mempengaruhi kondisi ekonomi domestik tahun ini dan 2022 serta berimplikasi pada desain APBN ke depan.

Sementara untuk faktor domestik, Sri Mulyani mengatakan pemulihan ekonomi Indonesia masih belum merata baik antar sektor maupun antar daerah.

“Untuk sektor industri keuangan harus terus dijaga karena mereka masih dalam posisi untuk mendukung pemulihan namun mereka juga melihat adanya kinerja dari sektor usaha yang perlu untuk diwaspadai,” jelasnya.

Terakhir adalah adanya perubahan teknologi digital dan iklim yang turut memberikan pengaruh terhadap dinamika outlook ekonomi serta keuangan negara.

“Ini lah yang harus menjadi perhatian bagi kita semua policy maker di pusat dan di daerah,” katanya.

Oleh sebab itu, Menkeu menegaskan sinergi dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi suatu keharusan dalam rangka menangkal potensi-potensi risiko yang ada.

Dia memastikan pemerintah pusat akan menggunakan kebijakan dari sisi APBN secara berimbang, terukur dan terarah dengan azas kehati-hatian sedangkan pemerintah daerah melalui APBD diminta turut berpartisipasi.

Dia mengatakan pemerintah daerah harus melakukan pemulihan ekonomi yang sinkron dengan arah yang dilakukan pemerintah pusat agar tidak menimbulkan kompleksitas.

“Bisa saja APBN menuju countercyclical tapi daerah arahnya tidak sesuai pusat. Ini menimbulkan kompleksitas karena APBD dan transfer ke daerah itu sepertiga APBN jadi jumlahnya cukup mempengaruhi perekonomian Indonesia,” jelasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini