Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Yellen Minta Suku Bunga Naik, Indeks Dolar AS Menguat

Yellen Minta Suku Bunga Naik, Indeks Dolar AS Menguat
Dolar AS (Foto: Ilustrasi Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Dolar AS alami reli mencapai level tertinggi dua minggu pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Dolar menguat karena sentimen risiko memudar di tengah aksi jual saham, dengan komentar Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan suku bunga mungkin perlu naik untuk mencegah ekonomi Amerika dari overheating juga mendukung greenback.

Indeks dolar, yang mengukur nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, naik 0,3% menjadi 91,278. Indeks dolar telah merosot lebih dari 2,0% pada April, dilansir dari Antara, Rabu (5/5/2021).

Baca Juga: Data Ekonomi Mengecewakan, Indeks Dolar Melemah

Yellen, dalam sambutannya membuat pernyataan ketika lebih banyak program investasi ekonomi Presiden AS Joe Biden sedang berjalan. Dia mengatakan bahwa pengeluaran tambahan itu kecil dibandingkan dengan ukuran relatif perekonomian.

Daya tarik safe-haven dolar menerima dorongan lebih lanjut karena Nasdaq turun lebih dari 2,0%, S&P lebih dari 1,0% dan Dow Jones Industrial Average turun 0,3% yang kurang curam, dan ketika imbal hasil obligasi pemerintah menurun.

Baca Juga: Rupiah Melemah Tipis ke Rp14.450/USD Imbas Investor Berhati-hati

Para analis mengatakan banyak berita baik tentang ekonomi kemungkinan telah dipertimbangkan oleh pasar.

"Setelah meningkat secara dramatis selama kuartal pertama, ekspektasi ekonomi AS telah bertemu dengan kenyataan, yang berarti bahwa kejutan tidak lagi mengarah ke positif," kata Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Cambridge Global Payments di Toronto.

"Bagi banyak investor dan pedagang momentum, beberapa penyeimbangan kembali, menjauh dari mata uang sensitif risiko dan menuju safe-haven, sangat masuk akal pada saat ini," tambahnya.

Kenaikan Selasa (4/5/2021) membalikkan kerugian yang diderita pada Senin setelah laporan survei manufaktur AS yang mengecewakan, meninggalkan dolar 1,0% di atas level terendah satu bulan yang dicapai minggu lalu.

"Tidak ada konsensus saat ini tentang apa yang akan terjadi pada dolar selama sisa tahun ini, seperti yang terjadi pada awalnya," kata Tempus Inc dalam catatan penelitian terbarunya.

"Sementara beberapa pedagang melihat dolar AS dengan ruang untuk tumbuh karena imbal hasil obligasi akan lebih tinggi di masa depan saat ekspektasi inflasi meningkat, yang lain percaya dolar sekarang dinilai terlalu tinggi dan hanya akan terus menyusut ketika seluruh dunia berhasil mengejar ketinggalan."

Dolar AS naik 0,8% terhadap dolar Australia menjadi 0,7704 dolar AS dan naik 0,9% versus dolar Selandia Baru menjadi 0,7138 dolar AS, meskipun harga-harga komoditas secara umum menguat secara keseluruhan.

Euro melemah 0,4% terhadap dolar menjadi 1,2013 dolar AS. Terhadap yen, dolar naik 0,2% menjadi 109,32 yen.

Sterling merosot 0,1% menjadi 1,3881 dolar AS menjelang pertemuan bank sentral Inggris pada Kamis (6/5/2021), yang mungkin mengumumkan perlambatan dalam program pembelian obligasi karena peluncuran vaksin mendukung ekonomi Inggris.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement