RI Cari Investor Perbanyak PLTS Atap

Giri Hartomo, Jurnalis · Sabtu 08 Mei 2021 17:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 08 320 2407751 ri-cari-investor-perbanyak-plts-atap-VOaSreYk7A.jpg RI Perbanyak PLTS. (Foto: Okezone.com/BUMN)

Tantangan lain, lanjut Dadan adalah bunga pinjaman yang tinggi, kemudian persyaratan agunan tinggi, tidak adanya pendanaan proyek, proyek berukuran kecil dan meningkatkan biaya transaksi, serta kapasitas pengembang proyek dan lembaga keuangan masih terbatas.

“Kemudian juga persyaratan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Bukan kami tidak mendukung TKDN, tetapi ini menjadikan harga komponen lebih mahal dibandingkan impor, yang terakhir adalah hambatan perizinan dan lisensi,” pungkas Dadan.

Sementara itu, Dewan Pengawas Indonesia Investment Authority (INA) Darwin Cyril Noerhadi mengatakan, kehadiran INA atau juga dikenal sebagai Lembaga Pengelola Investasi (LPI) diharapkan bisa menjadi mitra utama dalam menjembatani kebutuhan pembiayaan dalam meningkatkan penggunaan EBT di Indonesia yang selama ini menjadi masalah yang krusial.

Sebab, menurut Cyril, kebutuhan dana untuk pembangunan infrastuktur, termasuk ketenagalistrikan sangat besar, dan tidak cukup hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saja.

“Kebutuhan dana pembangunan infrastruktur begitu besar dan yang jelas tidak cukup dana itu bersumber hanya dari pemerintah,” kata Cyril.

Menurutnya, dengan itu pemerintah melalui Undang-Undang Cipta Kerja membentuk Indonesia Investment Authority (INA) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI).

Cyril menjelaskan, INA sebagai salah satu lembaga pelaksana investasi pemerintah diberikan beberapa kewenangan, yakni berwenang mengelola investasi, kemudian berwenang merencanakan, mengatur, mengawasi, mengendalikan, dan mengevaluasi kegiatan investasi. Pihaknya juga berupaya untuk menjadi mitra yang strategis dalam menarik dana investor asing untuk berinvestasi di Indonesia dan juga meningkatkan iklim.

Sementara  itu, Ketua Dewan Pengawas Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) Inka B Yusgiantoro mengatakan, kehadiran INA akan memberi harapan dan semangat baru bagi Indonesia khususnya untuk dapat membantu mobilisasi dana dari dalam maupun luar negeri untuk dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan investasi yang ada di Indonesia, termasuk di sektor energi baru dan terbarukan (EBT).

Sebab, selama ini pengembangan dan pemanfaatan EBT di Indonesia cukup terhambat akibat dari sulitnya mendapatkan pembiayaan proyek EBT itu sendiri. 

“Kami melihat bahwa salah satu penyebab terhambatnya pertumbuhan sektor EBT di Indonesia selama ini adalah sulitnya mendapatkan pembiayaan untuk proyek EBT. Sehingga salah satu harapan pemangku kepentingan Indonesia untuk alternatif sumber pembiayaan adalah melalui INA,” ujar Inka.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini