Share

Ekspor Produk UMKM RI Masih Ketinggalan dari Malaysia

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 10 Mei 2021 16:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 10 320 2408534 ekspor-produk-umkm-ri-masih-ketinggalan-dari-malaysia-wAznwlfL4K.jpg Pelabuhan (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Ekspor produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia masih stagnan di angka 19%. Persentase ekspor tersebut tidak mengalami kenaikan pasti selama beberapa tahun belakangan.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat, jika dibandingkan dengan negara-negara Asean, Indonesia masih tertinggal jauh. Wakil Direktur Indef, Eko Listiyanto mencatat, persentase produk usaha mikro di Malaysia berada di angka 20%. Sementara Thailand mendekati 30%.

Baca Juga: Cara Pastikan Dapat BLT UMKM, Begini 5 Faktanya

"Dilihat secara produktif kelihatan ya, dari ekspor begitu, Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia dan Thailand. Sekitar 15% porsi UMKM untuk ekspor, itu Malaysia sudah mendekati 20%. Sementara Thailand sudah mendekati angka 30%," ujar Eko dalam Webinar Indef, Senin (10/5/2021).

Indef memang tertarik melihat sebab utama ekspansi bisnis UMKM di sejumlah negara. Khusus Malaysia, dari pengamatan Indef, salah satu faktor fundamental yang mendorong kinerja usaha mikro negara setempat adalah upaya pengembangan ekosistem. Dimana, otoritas setempat memperkuat level pembiayaan dan pembinaan bagi pelaku usaha.

Baca Juga:  BLT UMKM 2021 Cair Sebelum Lebaran, Sudah Cek Rekening?

"Jadi kita jauh tertinggal, jadi saya tertarik melihat seperti apa Thailand dan Malaysia dalam membangun UMKM begitu. Ya salah satunya kalau Malaysia membangun ekosistem untuk UMKM, jadi baik dalam level pembiayaan dan pembinaan, itu juga dilakukan secara intensif, sehingga wajar kemudian mereka mampu naik kelas dan ekspansi bisnisnya hingga sampai ke ranah ekspor," katanya.

Aspek kredit pun menjadi instrumen lain dari pengembangan UMKM Malaysia. Di negara setempat, angka kredit perbankan berada di level 50%.%tase itu naik signifikan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara, di Indonesia masih berada di level 19-20%. Eko menilai, dukungan pembiayaan untuk UMKM mampu mendorong kinerja usahanya.

"Kalau kita lihat, ini spesifikasi dari sisi kredit nya dan dukungan pembiayaan. Dukungan pembiayaan di Indonesia sangat flat, ini sekitar 19%-20%. Dari tahun ke tahun segitu gitu aja gak naik naik, sehingga harus ada terobosan kalau gak ini sangat tertinggal," tutur dia.

Meski demikian, dia tidak menafikan, upaya transformasi Kementerian BUMN dengan menghadirkan Holding Ultra Mikro dinilai langkah tepat untuk membuat roda UMKM bergeliat. Holding tersebut merupakan sinergi antara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini