Sementara pertumbuhan ekonomi China yang meningkat tajam sebesar 18,3% (yoy) terjadi seiring terkendalinya penyebaran COVID-19.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi China yang melonjak tajam akan memberikan dampak positif bagi Indonesia yaitu pertumbuhan ekspor yang relatif meningkat terutama batubara.
Di sisi lain, Andry menyatakan pertumbuhan ekonomi AS yang lebih cepat berpotensi terjadinya perubahan cycle kebijakan moneter dan fiskal secara global.
Pertumbuhan ini menimbulkan kekhawatiran pada pasar keuangan global karena berpotensi terjadi kenaikan inflasi yang cepat di AS meski The Fed memastikan kebijakan moneter yang longgar untuk mengiringi pemulihan ekonomi agar berjalan lancar.
“Tantangannya adalah kalau recovery lebih cepat dan inflasi meningkat maka akan ada perubahan cycle kebijakan moneter yang bisa lebih cepat dari trajectory yang sudah disampaikan The Fed,” jelasnya.
Dia menjelaskan pemulihan ekonomi AS lebih cepat dapat memicu penarikan stimulus moneter yang lebih cepat juga sehingga berdampak negatif pada pasar keuangan global termasuk pasar keuangan domestik.
“The Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya di 0,25% sampai 2023. Kalau ekonomi AS pulih lebih cepat apa tidak mungkin itu lebih awal lagi,” tegasnya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.