Bitcoin Rebound, Indeks Dolar Melemah

Jum'at 21 Mei 2021 07:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 21 320 2413291 bitcoin-rebound-indeks-dolar-melemah-GKrnCwZUxH.jpg Dolar AS (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA – Indeks dolar melemah pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Dolar turun ke level terendah multi-bulan ketika sentimen risiko menarik investor menjauh dari mata uang safe-haven, membalikkan kenaikan sehari sebelumnya didorong rilis risalah Federal Reserve AS yang membuka ruang untuk pembahasan tapering (pengurangan pembelian obligasi).

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang saingannya terakhir turun 0,46% menjadi 89,792, dilansir dari Antara, Jumat (21/5/2021).

Baca Juga: Indeks Dolar AS Tergelincir karena Ancaman Inflasi Mereda

Pelemahan itu membantu meningkatkan dolar Australia yang juga mendapat dorongan dari data ketenagakerjaan April yang kuat. Dolar Australia menguat 0,56% menjadi 77,71 sen.

Euro naik 0,37% menjadi 1,2219 dolar AS, dan dolar AS turun 0,38% menjadi 108,80 yen Jepang.

Ekonomi Kanada yang kuat dan kenaikan harga komoditas telah mendorong dolar Kanada ke level terkuatnya terhadap dolar sejak 2015. Dolar terakhir turun 0,60% terhadap loonie, pada 1,2059 dolar Kanada.

Baca Juga: Ekspektasi Inflasi Meroket buat Dolar Terjatuh

Sementara itu harga Bitcoin naik 8,9% menjadi USD40.050 setelah jatuh hingga 54% di bawah rekor tertingginya, yang dicapai lebih dari sebulan yang lalu, setelah beberapa pendukung utamanya menegaskan kembali dukungan mereka untuk mata uang digital.

Risalah dari pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve AS baru-baru ini, menyatakan bahwa beberapa pembuat kebijakan mengatakan diskusi tentang pengurangan pembelian obligasi pemerintah akan tepat "di beberapa titik" jika pemulihan ekonomi terus meningkat.

Itu memberi dorongan pada greenback, yang telah merosot dalam beberapa pekan terakhir karena kepastian Fed yang berulang bahwa terlalu dini untuk memperketat kebijakan akomodatifnya dan bahwa lonjakan harga-harga saat ini tidak menandakan inflasi jangka panjang.

"Sebagian besar pergerakan yang kami lihat selama 24 jam terakhir terjadi pada risalah Fed," kata Ronald Simpson, direktur pelaksana analisis mata uang global di Action Economics di Tampa, Florida. "Pasar benar-benar bereaksi berlebihan terhadap mereka dan imbal hasil obligasi pemerintah lebih tinggi."

"Setelah beberapa pemikiran, pasar telah menyadari bahwa Fed akan membutuhkan data yang lebih baik selama berbulan-bulan sebelum mulai membahas tapering," tambah Simpson. "Hari ini, pasar mengambil hati itu dan membatalkan pergerakan yang kita lihat kemarin."

Reli di Wall Street dan rebound mata uang kripto mengisyaratkan sentimen risiko yang luas, bersama dengan melemahnya imbal hasil obligasi pemerintah, membantu dolar menghapus kenaikan sehari sebelumnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini