Industri Penerbangan Belum Pulih, Garuda Cs Bisa Babak Belur hingga 2024

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 21 Mei 2021 14:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 21 320 2413490

JAKARTA - Pemerintah Indonesia diminta untuk segera menutup penerbangan luar negeri. Hal tersebut menyusul angka kasus covid-19 yang masih sangat tinggi.

Pengamat penerbangan sekaligus Presiden Direktur Aviatory Indonesia Ziva Narendra Arifin mengatakan jika tak ditutup sekarang akan berdampak pada pemulihan industri penerbangan. Bahkan pemulihan m industri penerbangan akan jauh lebih lama dari yang sudah diperkirakan.

Baca Juga: Pengumuman! Penerbangan Pesawat Carter Dilarang Beroperasi Selama Larangan Mudik

Menurut Ziva, para pelaku industri penerbangan sudah mencoba untuk memulihkan kembali sektor ini. Namun hal tersebut selalu berakhir buntu karena banyak pelaku penerbangan yang belum menerima kondisi pandemi covid-19 di Indonesia yang belum berakhir.

“Saya melihat kedua bakal lebih lama. Karena yang telah kita lakukan dalam satu tahun terakhir khususnya dari Industri penerbangan adalah kita selalu mencoba coba untuk memulihkan tapi kita masih belum terima fakta bahwa pandemi ini Indonesia belum mendekati full recovery,” ujarnya saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Jumat (21/5/2021).

Baca Juga: Jam Operasional 16 Bandara Ini Berubah saat Mudik Dilarang, Cek Jadwalnya

Menurut Ziva, berdasarkan The International Air Transport Association (IATA), maskapai penerbangan akan tetap merugi paling cepat di 2024. Oleh sebab itu, pelaku industri penerbangan seharusnya bisa menerima dan fokus pada penanganan pandemi.

“Selama kita tidak menerima, jadi industri penerbangan di seluruh dunia ini sudah menerima data dari IATA, kita masih akan tetap merugi sampai dengan 2024 paling cepat di 2024,” jelasnya.

Menurutnya, jika pelaku industri penerbangan berusaha untuk menutup kerugian akan sangat percuma. Karena jika pandemi belum berakhir, maka kerugian masih akan tetap datang kepada industri penerbangan.

Sedini mungkin kita menerima kenyataan itu maka kita bisa fokus menekan angka penyebaran ini. Bukan untuk mencoba menutup kerugian mencari itu tadi percuma,” jelas Ziva.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini