Pemulihan Industri Penerbangan RI Lebih Lambat Dibanding Vietnam dan Singapura

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 24 Mei 2021 09:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 24 320 2414517 pemulihan-industri-penerbangan-ri-lebih-lambat-dibanding-vietnam-dan-singapura-hVJL12mrVB.jpg Pemulihan Industri Penerbangan. (Foto: Okezone.com/AP 2)

JAKARTA - Pemulihan industri penerbangan di Indonesia diprediksi lebih lama dari prediksi lembaga internasional. The International Air Transport Association (IATA) memperkirakan maskapai penerbangan seluruh dunia akan tetap merugi paling cepat di 2024.

Pengamat Penerbangan Sekaligus Presiden Direktur Aviatory Indonesia Ziva Narendra Arifin mengatakan, pemulihan industri penerbangan di dalam negeri akan lebih lambat dibandingkan negara-negara yang sudah ketat dalam penanganan Covid-19. Sebagai salah satu contohnya adalah negara tetangga Vietnam yang sejak awal sangat ketat dalam penanganan Covid-19.

Baca Juga: Industri Penerbangan Belum Pulih, Garuda Cs Bisa Babak Belur hingga 2024

“Kalau dengan sekarang saja kita tutup tidak tutup saya melihat Indonesia akan mundur satu tahun dari negara yang sudah lebih disiplin. Misalnya kita bandingkan dengan Vietnam yang dari awal sudah menekankan ketat sekali,” ujarnya saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Senin (24/5/2021).

Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk segera menutup rute penerbangan internasional. Hal tersebut menyusul masih tingginya jumlah kasus Covid-19 baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Baca Juga: Vaksinasi Tak Jamin Bisa Pulihkan Industri Penerbangan

Memang, ada risiko yang akan terasa bagi industri penerbangan akibat penutupan tersebut. Namun, untuk jangkag panjang, pemulihan indusri penerbangan akan bisa dilakukan dengan cepat.

Singapura sebagai contohnya yang sudah merasakan dampak dari pandemi. Namun menurut Ziva, proses pemulihan industri penerbangan di Singapura akan jauh lebih cepat dibandingkan dengan Indonesia menyusul langkah lockdwond atau penguncian yang diambil pemerintah setempat.

“Singapura adalah salah satu yang menyadari kerugian tersebut dan mereka mengalami rugi besar besaran tapi mereka ada harapan duluan untuk menuju ke pemulihan. Saya lihat Indonesia bisa mundur satu tahun dari negara lain-lain,” jelasnya.

Menurut Ziva, jika pelaku industri penerbangan berusaha untuk menutup kerugian akan sangat percuma. Karena jika pandemi belum berakhir, maka kerugian masih akan tetap datang kepada industri penerbangan.

“Kalau misalnya dibilang kita sudah mulai menikmati seberapa besar keuntungan yang kita dapat dan risiko penyebaran,” ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini