5 Tantangan Digitalisasi Perbankan, Waspadai Serangan Siber

Ferdi Rantung, Jurnalis · Sabtu 29 Mei 2021 13:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 29 320 2417133 5-tantangan-digitalisasi-perbankan-waspadai-serangan-siber-NwrUNV4p9f.jpg Bank (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Bank-bank di Indonesia mempercepat digitalisasi. Penetrasi digitalisasi perbankan di masyarakat tersebut sudah mulai berjalan dan bahkan secara tidak langsung terdorong dengan adanya pandemi Covid-19. Hal tersebut dapat dilihat dari data transaksi digital banking yang selama pandemi melonjak cukup signifikan.

“Dari segi volume transaksi mencapai 513,7 juta, meningkat sebesar 41,53% dibanding tahun lalu. Secara nila transaksi juga meningkat 13,91% secara year on year menjadi Rp2.774,5 triliun,” kata Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (29/5/2021).

Baca Juga: Hikmah di Balik Pandemi, Percepat Proses Digitalisasi Bank 

Namun demikian, untuk dapat mengembangkan digitalisasi perbankan di Indonesia, Anung mengingatkan kalangan perbankan nasional bahwa ada sejumlah tantangan yang juga harus dihadapi. Hal itu harus dijawab dengan cermat dan hati-hati agar potensi digitalisasi perbankan yang ada dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal.

Anung mencatat setidaknya ada lima tantangan utama bagi industri perbankan nasional untuk dapat mengembangkan business modelnya dalam digital banking.

“(Tantangan) Pertama adalah adanya potensi peningkatan risiko serangan siber. Lalu juga kebutuhan investasi yang cukup besar untuk membangun infrastruktur teknologi informasi yang memadai serta ketersediaan talent digital baik secara kualitas dan juga kuantitas memadai,” ungkap Anung.

Sementara dari segi regulator, Anung juga memahami bahwa adanya tantangan kebutuhan infrastruktur jaringan komunikasi yang merata serta juga regulatory framework yang mendukung terhadap pengembangan digitalisasi perbankan di masa mendatang.

Anung juga mengingatkan adanya tren peningkatan perubahan karakteristik masyarakat seiring dengan semakin berkembangnya ekosistem sektor keuangan.

“Perubahan ekosistem sekor keuangan yang didorong digitalisasi menimbulkan disrupsi dan juga isu ekonomi maupun keuangan yang memicu volatility, uncertainity, complexity dan ambiguity, atau yang di kalangan perbankan dikenal dengan tantangan VUCA yang akan terus semakin meningkat. Ini semua harus dimitigasi dengan baik agar tidak sampai melanggar azas kehati-hatian di bidang perbankan,” tegas Anung.

Saat ini Indonesia tercatat sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar di Kawasan regional Asia Tenggara. Tercatat nilai transaksi ekonomi digital Indonesia sudah menembus angka US$44 miliar.

Angka tersebut diyakini bakal terus berkembang hingga mencapai USD124 miliar pada tahun 2025 mendatang. Gelombang digitalisasi ini sejalan dengan melonjaknya penggunaan mobile banking apps di Indonesia, dari sebesar 33 persen pada Januari 2020 menjadi 39,2 persen pada Januari 2021 lalu.

“Data-data ini merupakan kabar bagus, karena secara pasar juga masih tersedia ruang yang sangat luas untuk tumbuh. Masyarakat kita yang banked hingga saat ini masih sebatas 42 juta, sedangkan yang underbanked sebanyak 47 juta dan yang unbanked mencapai 92 juta,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini