Bangun Maskapai Baru Pengganti Garuda Indonesia, Begini Konsepnya

Hafid Fuad, Jurnalis · Kamis 03 Juni 2021 13:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 03 320 2419471 bangun-maskapai-baru-pengganti-garuda-indonesia-begini-konsepnya-z3BsDq116X.png Garuda Indonesia. (Foto: Okezone.com/Garuda Indonesia)

JAKARTA- Strategi penyelamatan Garuda Indonesia membuka pilihan membangun maskapai penerbangan domestik baru. Garuda versi baru ini akan mengambil alih sebagian besar rute domestik Garuda. Bahkan, menjadi national carrier di pasar domestik.

 Pengamat Penerbangan Suharto Abdul Majid mengatakan, walaupun mengganti Garuda Indonesia sangat menyedihkan tapi ini tetap harus dilakukan.

Baca Juga: Garuda Indonesia Dibangkrutkan, Pak Erick Thohir Setuju?

"Pasti sedih saya pun juga sebagai praktisi di industri penerbangan sekaligus pengguna Garuda Indonesia. Tapi solusinya sekarang membangun maskapai baru dengan ekosistem yang bersih dan profesional," ujar Abdul Majid saat dihubungi Okezone di Jakarta (3/6/2021).

Menurutnya, bila nanti dibangun maskapai baru akan terdapat beberapa kondisi yang harus dipersiapkan. Pertama keuntungan baru akan terlihat di tahun ke lima.

Baca Juga: Garuda Indonesia Hadapi Kondisi Berat, Masih Bisa Bertahan?

Sementara dalam empat tahun awal akan merugi dalam proses merintis. Kedua adalah armada yang digunakan tidak boleh banyak. Ketiga model bisnisnya harus diperbaiki dengan syarat efisiensi.

"Keempat yaitu perusahaan penerbangan tidak perlu direksi yang pintar-pintar. Tapi yang dibutuhkan mental kerja keras, berdedikasi tinggi, dan bersikap profesional. Biasanya yang pintar suka korupsi," ujarnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Indef Nailul Huda mengatakan, secara industri transportasi udara memang terpuruk sekali. Sektor ini terkontraksi hingga -52 persen pada triwulan pertama 2021. Sebelumnya lebih parah.

"Jadi tanpa ada permintaan industri ini akan mengalami kegagalan yang lebih cepat dibandingkan dengan industri lainnya. Jalan efisiensi operasional menjadi salah satunya. Pengurangan karyawan harusnya menjadi jalan terakhir. Sebaiknya dicoba dulu pengurangan rute penerbangan yang kurang potensial," ujar Huda dihubungi terpisah.

Kondisi ini menurut dia, memang buntut dari kondisi keuangan Garuda Indonesia yang banyak sekali mengeluarkan pembiayaan untuk pesawat karena membuka rute-rute baru terutama internasional yang kadang kalah bersaing dengan maskapai intrnasional lainnya.

"Ujungnya ketika krisis ya keuangan mereka tidak sehat," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini