OJK Akui Bisnis Fintech P2P Lending Kesulitan Laba

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Senin 21 Juni 2021 15:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 21 320 2428496 ojk-akui-bisnis-fintech-p2p-lending-kesulitan-laba-RFUBeuWSa6.jpg OJK soal Fintech Berizin dan Tedaftar. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Indonesia salah satu pasar yang menarik dalam perkembangan Financial Technology (Fintech). Terlihat dari perkembangan fintech dalam 5 tahun terakhir.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi mengatakan, sejak OJK menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan mengenai Fintech P2P tahun 2016 silam, pertumbuhannya sangat pesat. Sampai dengan saat ini, tercatat ada 60 Fintech P2P yang statusnya terdaftar di OJK serta 65 yang telah memiliki status berizin.

"Beberapa waktu lalu sampai dengan sekarang, kami masih melakukan moratorium pendaftaran Fintech, mengingat OJK masih harus memastikan bahwa Fintech yang telah terdaftar di kami nantinya memiliki reputasi yang baik, didukung oleh pengelola yang profesional serta memang memiliki kemampuan yang mencukupi dalam hal mengelola bisnis Fintech P2P," ujarnya, Senin (21/6/2021).

Menurut dia, ini dikarenakan bisnis P2P merupakan sebuah bisnis yang high risk dengan tentunya requirement teknologi yang sangat tinggi.

Baca Juga: Pengawasan Diperketat, OJK 'Musnahkan' 3.193 Fintech Ilegal

"Bahkan kami melihat, sampai dengan saat ini, masih banyak pelaku P2P yang masih kesulitan dalam men-generate laba. Kondisi ini sedang dalam evaluasi oleh kami," ungkapnya.

Dia melanjutkan, bisnis fintech merupakan bisnis yang tidak mudah. Teknologi saja tidak cukup kuat untuk membangun pondasi yang baik. Perlu dukungan baik dari sisi SDM maupun experience dari manajemen serta komitmen permodalan dari pendiri.

Baca Juga: Satgas Investasi: Semua Penawaran Pinjaman Online Melalui SMS Ilegal

"Sampai saat ini Indonesia masih dikategorikan sebagai lucrative market dengan segala advantage baik itu populasi produktif kita ataupun dari sisi market yang belum terjamah (untapped market)," jelasnya.

Hal ini juga jelas terlihat dari sisi perkembangannya, P2P Lending senantiasa memperlihatkan trend yang positif. Meskipun pada masa-masa awal pandemi sempat mengalami penurunan, namun perlahan terus melakukan perbaikan secara statistik.

Riswinandi menambahkan, saat ini fintech sebagai salah satu kunci dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Terlebih dalam kondisi yang mengharuskan kita untuk membatasi mobilitas serta pergerakan akibat Covid-19.

"Fintech juga membangun sebuah jembatan penghubung antara masyarakat sebagai user dengan layanan keuangan serta membantu mengurai rantai distribusi ekonomi yang panjang serta memperbesar akses layanan keuangan kepada masyarakat, terutama sektor informal produktif atau UMKM," tuturnya.

Sebagai informasi, fintech secara cepat tumbuh dalam berbagai sektor baik itu sektor perbankan yakni digital banking maupun yang baru-baru ini menjadi pembicaraan yakni Neo Bank, di pasar modal seperti equity/security crowdfunding serta berbagai platform penjualan instrumen pasar modal. Kemudian di IKNB di bidang yang berada di bawah pengawasan kami ada InsurTech (Insurance Technology) maupun Peer to Peer Lending Platform.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini