Lebih Banyak Simpan Uang, Orang RI Enggan Ajukan Kredit di Bank

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 08 Juli 2021 10:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 08 622 2437373 lebih-banyak-simpan-uang-orang-ri-enggan-ajukan-kredit-di-bank-6oxkKTjt8E.jpg Uang Rupiah (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Kinerja perbankan selama pandemi covid-19 tak begitu cemerlang. Sebab, masyarakat masih enggan mengajukan kredit sehingga penyaluran kredit perbankan masih rendah.

Baca Juga: Realisasi KUR Tembus Rp128,4 Triliun di Awal Juli

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai penyaluran kredit masih tertahan, sementara jumlah Dana Pihak Ketiga meningkat.

"Hal ini terjadi karena konsumsi masyarakat berkurang akibat motif berjaga-jaga karena tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi," kata Aviliani di Jakarta, Kamis (8/7/2021).

Baca Juga: Bunga Turun, OJK Sebut Permintaan Kredit Masih Lesu

Lalu, peningkatan dana pihak ketiga terus berlanjut hingga Juni 2021 sejak 2020. Meskipun secara bulanan relatif berfluktuasi. Sedangkan, suku bunga acuan turun, tapi suku bunga kredit perbankan masih tinggi.

"Selama pandemi covid-19, Bank Indonesia telah beberapa kali menurunkan suku bunga acuan," katanya.

Namun demikian, suku bunga kredit perbankan ternyata cenderung lebih rigid. Pada April 2021, selisih suku bunga acuan BI dengan suku bunga kredit konsumsi sebesar 7,37% , perbedaan dengan suku bunga kredit investasi sebesar 5,18% , dan perbedaan dengan suku bunga modal kerja adalah sebesar 5,53%. Selain itu, perubahan pergerakan suku bunga kredit perbankan sangat lambat.

Saat ini, ruang fiskal terbatas akibat dari tax ratio yang rendah dan aktivitas ekonomi menurun. Implikasinya dana untuk PEN ruangnya lebih terbatas. Stimulus fiskal untuk pandemi hanya berkisar 7,88% dari PDB, jauh di bawah peer countries.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini