Harga Minyak Minggu Ini Anjlok, Brent Turun hingga 3%

Antara, Jurnalis · Sabtu 17 Juli 2021 08:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 17 320 2442012 harga-minyak-minggu-ini-anjlok-brent-turun-hingga-3-FwxOU7GdIB.jpg Harga Minyak Dunia Turun. (Foto: Okezone.com/SKK Migas)

NEW YORK - Harga minyak menguat tipis pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Pada minggu ini, harga minyak bergerak lebih rendah dalam perdagangan yang bergejolak oleh ekspektasi meningkatnya pasokan serta peningkatan kasus virus corona yang menekan permintaan.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September naik 12 sen atau 0,2% menjadi USD73,59 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus terangkat 16 sen atau 0,2% menjadi USD71,81 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok, Brent Dibanderol USD73,47/Barel

Meskipun mencatat kenaikan, Brent turun hampir 3,0% selama sepekan atau menjadi penurunan minggu ketiga berturut-turut untuk pertama kalinya sejak April 2020. Sedangkan minyak WTI jatuh 4,0% atau menjadi minggu dengan persentase penurunan terbesar sejak Maret.

Sementara itu, penjualan ritel AS secara tak terduga meningkat pada Juni karena permintaan barang-barang tetap kuat. Bahkan ketika pengeluaran beralih kembali ke sektor jasa-jasa, memperkuat ekspektasi bahwa pertumbuhan ekonomi meningkat di kuartal kedua.

Menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes, harga minyak dibatasi karena jumlah rig minyak AS melanjutkan kenaikannya yang lambat. Hanya bertambah dua rig minggu ini menjadi 380 unit aktif, tertinggi sejak April 2020.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Jatuh 2%, Investor Khawatir Kelebihan Pasokan

Selain itu, produksi minyak mentah ASmeningkat 300.000 barel per hari (bph) selama dua minggu terakhir, naik menjadi 11,4 juta barel per hari dalam pekan yang berakhir 9 Juli, tertinggi sejak Mei 2020.

Kemudian Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mencapai kompromi awal pekan ini dan membuka peluang produsen OPEC+ untuk menyelesaikan kesepakatan guna meningkatkan produksi.

"Semakin lama waktu yang dibutuhkan OPEC+ untuk mengumumkan pertemuan luar biasa buat memberikan suara pada barel tambahan, semakin menyiratkan anggota OPEC+ lainnya mungkin juga menginginkan kenaikan kuota dasar mereka," kata Direktur Energi Berjangka Mizuho, Bob Yawger, dikutip dari Antara, Sabtu (17/7/2021).

Sebagai informasi, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dengan Rusia sebelumnya gagal mencapai kesepakatan setelah Uni Emirat Arab mencari dasar yang lebih tinggi untuk mengukur pengurangan produksinya.

OPEC mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan permintaan minyak dunia akan meningkat tahun depan ke sekitar level yang terlihat sebelum pandemi, sekitar 100 juta barel per hari, didorong oleh pertumbuhan permintaan di Amerika Serikat, China dan India.

Tetapi peningkatan kasus virus corona terkait dengan varian Delta yang sangat menular dapat memicu penguncian baru yang kemungkinan akan mengurangi perkiraan permintaan minyak bullish baru-baru ini.

Di Amerika Serikat misalnya, wilayah Los Angeles akan kembali mewajibkan menggunakan masker akhir pekan ini. Sementara itu, Inggris melaporkan jumlah kasus baru Covid-19 tertinggi dalam lebih dari enam bulan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini