BI Jawab Transformasi Ekonomi Digital di Tengah Pandemi

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Sabtu 17 Juli 2021 14:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 17 320 2442111 bi-jawab-transformasi-ekonomi-digital-di-tengah-pandemi-yK5XHItGE9.jpg Bank Indonesia Jawab Perkembangan Ekonomi Digital. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai pandemi Covid-19 telah mentransformasi ekonomi di Indonesia. Di mana perilaku masyarakat saat ini lebih banyak ke arah digital.

Hal ini juga didukung masifnya perkembangan teknologi, yang membuat perekonomian lebih cepat, mudah, dan bisa dilakukan di mana saja dan tanpa batas waktu. Termasuk urusan bisnis dan cara bertransaksi.

Baca Juga: Utang Luar Negeri RI Tembus Rp6.017 Triliun, BI Klaim Masih Sehat

"Digital disruption mengubah cara bertransaksi, perdagangan dan sistem ekonomi secara umum. Dan ini akan mempengaruhi segala hal," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, dalam webinar PPM School of Management, Sabtu (17/7/2021)

Sistem ekonomi digital tidak hanya berbicara ihwal perubahan cara bertransaksi ataupun berdagang. Namun juga peluang munculnya pemain bisnis baru, sebuah model bisnis yang tidak ada di era konvensional.

Baca Juga: Berapa Utang Luar Negeri Indonesia? Kini Tembus Rp6.017 Triliun

"Yang dimaksud pemain baru di sini bukan hanya pemain di dunia bisnis, bahkan pesaing bank sentral pun sudah ada," singgung Erwin.

 ank Indonesia memahami banyak kompetitor dalam bisnis bank sentral. Erwin melihat hal itu dengan mengambil contoh cryptocurrency dan uang digital media sosial (Libra dari Facebook).

"Siapa yang pernah berfikir bahwa bank sentral dapat pesaing dari sosial media. Jadi disrupsi itu nyata, bahkan untuk bank sentral," ujarnya.

BI yang notabene posisinya sebagai pembuat kebijakan atau 'policy maker' di Indonesia, mencoba menjinakkan digital disrupsi tidak hanya mengantisipasi keburukan saja, melainkan mencari peluang bisnis yang dapat dikembangkan.

Di sinilah BI menerbitkan Blueprint Sistem Pembayaran Digital 2025 pada tahun 2019. Pedoman ini dibuat sebagai panduan arah kebijakan untuk mengembangkan sistem pembayaran pada era digital ke depan

Salah satunya adalah dengan menerbitkan sekaligus memaksimalkan penggunaan QRIS (QR Code Indonesia Standard) di segala sektor bisnis.

Nantinya, sistem pembayaran akan lebih mudah dilakukan dengan adanya join-data antara dua pihak yang bertransaksi.

"Katakanlah saya belanja di Bukalapak dengan LinkAja, di sini ada kerjasama antara dua hal itu. Supaya kolaborasi itu bisa terjadi maka itu ada pertukaran data dalam Application Programming Interface (API),"terangnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini