Mengejutkan! Tesla Pilih Nikel Australia Bukan Indonesia, Ada Apa?

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Senin 02 Agustus 2021 16:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 02 320 2449674 mengejutkan-tesla-pilih-nikel-australia-bukan-indonesia-ada-apa-yVtf6DqUk3.jpg Tesla Lebih Pilih Nikel Australia (Foto: Reuters)

JAKARTA – Tesla lebih memilih perusahaan tambang Australia, BHP untuk urusan nikel. BHP akan memasok kebutuhan nikel untuk Tesla dalam memproduksi baterai mobil listrik.

Padahal, pemerintah terus membahas rencana investasi dengan Tesla. Namun, kini harus gigit jari lagi. Perusahaan tambang nikel asal Australia yakni BHP beberapa hari lalu mengumumkan telah menandatangani kesepakatan perjanjian kerja sama dengan Tesla untuk memasok nikel guna kebutuhan baterai kendaraan listrik.

Apa alasan Tesla lebih memilih perusahaan tambang nikel Australia dibanding Indonesia?

Menurut, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli, ada sejumlah alasan di balik itu.

“Dalam operasional, BHP lebih menekankan pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Ini yang menjadi pertimbangan karena dianggap ini bisa mengangkat citra perusahaan dalam hal menjaga lingkungan,” ujarnya dalam Market Review di IDX Channel, Senin (2/8/2021).

Terkait penolakan Tesla kepada Indonesia, dia menuturkan Indonesia dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Menurutnya, hal itu bisa dijadikan evaluasi agar pemerintah bisa lebih memperhatikan industri manufaktur di Tanah Air.

“Kalau Tesla memilih Australia dengan pertimbangan yang ada, kemudian memilih India sebagai pusat pembangunan pabrik mobilnya, karena di India memiliki beberapa keunggulan. Misalnya, India sangat berkembang di bidang manufaktur sehingga dia (India) lebih siap untuk memproduksi komponen mobil, baterai, dan sebagainya,” katanya.

Menurutnya, dalam hal tenaga kerja dan infrastruktur, India lebih siap. Hal seperti inilah yang menurutnya perlu diperbaiki di Indonesia sebab hingga saat ini Indonesia masih mengekspor produk setengah jadi.

Dia menyebut, apabila Indonesia dapat membangun infrastruktur atau perusahaan manufaktur yang bisa menyerap produk setengah jadi, maka Indonesia dipastikan dapat bersaing dengan negara lain.

Terkait itu, Rizal mengatakan perlu dibuat roadmap pada industri yang dapat mumpuni dalam bidang ini. Sehingga pemerintah dapat mendorong dan membantu terciptanya pembangunan industri manufaktur yang lebih efisien.

“Kami sering berdiskusi mengenai hal ini baik dengan Kementerian SDM, Kementerian Perindustrian, dan dengan lembaga lain bahwa ini yang kita sebut dengan pohon industri yang masih kosong di Indonesia harus segera diisi. Sehingga Indonesia bisa mendapatkan nilai tambah yang lebih besar dari pengelolaan sumber daya mineral yang kita miliki,” katanya.

Dia memprediksi, jika ini diseriuskan maka dalam waktu 5 – 10 tahun Indonesia bisa mencapai pertumbuhan industri manufaktur untuk menyerap Intermediate Products atau Produk Antara yang dihasilkan dari pertambangan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini