Share

Pengangguran Tembus 8,75 Juta Orang, Didominasi Lulusan SMK

Michelle Natalia, Jurnalis · Sabtu 07 Agustus 2021 13:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 07 320 2452328 pengangguran-tembus-8-75-juta-orang-didominasi-lulusan-smk-9T17foFY0B.jpg Pengangguran Indonesia didominasi lulusan SMK (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan mencatat tenaga kerja Indonesia saat ini terdiri dari penduduk bekerja 131,06 juta atau sebesar 93,74%. Sementara itu, jumlah pengangguran terbuka sebanyak 8,75 juta dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) 6,26%.

"Penduduk kita yang bekerja di sektor formal sebanyak 40,38% dan yang di sektor informal sebanyak 59,62%," ujar Direktur Bina Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi dan Pemagangan Direktorat Jenderal Bina Lavotas Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Muhammad Ali dalam webinar di Jakarta, Sabtu(7/8/2021).

Baca Juga: Skenario Terburuk Ekonomi Tumbuh 0%, Rupiah Anjlok Jadi Indikator Pra-Krisis

Yang menjadi perhatian Kemnaker, justru adalah di dalam pengangguran terbuka, porsi terbesar adalah dari lulusan SMK dengan porsi 11,45%. Selain itu, Indonesia dihadapkan dengan beberapa tantangan peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM).

"Berdasarkan data BPS per Februari 2021, tenaga kerja informal seperti data di atas masih tinggi dan didominasi oleh lulusan pendidikan SMP ke bawah. Jumlah angkatan kerja baru per tahunnya sekitar 2,24 juta orang," ungkap Ali.

Baca Juga: Ada PPKM Level 4 dan 3, Sri Mulyani Waspadai Ekonomi Kuartal III

Terlebih, jumlah orang di Indonesia yang harus mengikuti pelatihan lagi untuk jenis pekerjaan baru rentangnya dari 6 hingga 29 juta orang. Jumlah pekerjaan yang terdampak otomatisasi pun tercatat sebanyak 23 juta.

"Belum lagi penduduk usia kerja terdampak usia kerja adalah sebanyak 19,1 juta jiwa," tambahnya.

Bahkan, produktivitas tenaga kerja Indonesia masih jauh di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Persentase porsi wirausahawan Indonesia juga masih rendah yaitu 3,10% dibandingkan Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan negara maju lainnya.

"Belum lagi persoalan skill mismatch yang masih cukup besar, misal pendidikan tinggi namun pekerjaannya membutuhkan skill yang lebih rendah. Di Indonesia, angka vertical mismatch sebesar 53,33% dan horizontal mismatch sebesar 60,52%," jelasnya.

Dia menyebutkan, kendati demikian, Indonesia masih memiliki peluang. Pertama, jumlah kebutuhan supply tenaga kerja terampil pada tahun 2030 adalah 113 juta, untuk Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar nomor 7 di dunia tahun 2030.

"Kemudian, jumlah kebutuhan supply tenaga kerja terampil rata-rata dari tahun 2016-2020 adalah sebesar 3,9 juta orang," lanjut Ali.

Diprediksi akan ada sebanyak 10 juta jenis pekerjaan baru yang akan muncul di Indonesia hingga tahun 2030. "Dan di tahun 2030, Indonesia akan mencapai puncak bonus demografi," pungkas Ali.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini