Sri Mulyani Pamer Aset Perbankan Syariah Tembus Rp598,2 Triliun

Michelle Natalia, Jurnalis · Rabu 25 Agustus 2021 15:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 25 320 2460947 sri-mulyani-pamer-aset-perbankan-syariah-tembus-rp598-2-triliun-0OkCtBOjU7.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Global Islamic Economic Report (2020) memproyeksikan keuangan syariah akan pulih dan terus tumbuh. Keuangan syariah pun menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di industri keuangan global.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan dengan tren global tersebut, keuangan syariah di Indonesia juga tumbuh positif di tengah pandemi.

Baca Juga: 30 Ribu Pesantren Jadi Kekuatan Baru Pengembangan Ekonomi Nasional

“Dari sisi perbankan, aset perbankan syariah tumbuh 15,6% (year-on-year) pada Mei 2021 dan mencapai Rp598,2 triliun. Oleh karena itu, kinerja perbankan syariah jauh lebih baik daripada yang konvensional”, kata Sri Mulyani, pada acara 5th Annual Islamic Finance Conference (AIFC), Rabu (28/8/2021).

Selain peningkatan jumlah investor di pasar modal syariah, outstanding Sukuk juga mengalami pertumbuhan 10,75% (year-to-date) per Juli 2021. Menurut Menkeu, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk mengoptimalkan pasar keuangan syariah dengan mengembangkan lebih banyak varian pembiayaan Sukuk, seperti Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) dan Green Sukuk.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Syariah Semakin Menjanjikan, Wapres: Sudah Waktunya Kita di Depan

“Di tengah ketidakpastian kondisi pasar global akibat Covid-19, pada Juni 2021, Pemerintah Indonesia kembali menerbitkan Green Sukuk di pasar global senilai total USD3 miliar. Penerbitan ini menjadi contoh yang sangat baik, bagaimana peranan pemerintah dalam meningkatkan partisipasi sektor swasta mengembangkan proyek hijau berbasis Syariah” ujar Menkeu.

Menkeu mengungkapkan bahwa penerbitan Global Green Sukuk mendapatkan berbagai pencapaian. Salah satunya adalah pertama kali dan terpanjang di dunia dengan imbal hasil Green Sukuk mencapai 30 tahun.

“Sukuk yang diterbitkan Indonesia di pasar global juga menunjukan ketertarikan banyak investor hijau global, 57% dari total nilai penerbitan Green Sukuk. Imbal hasilnya juga mendapatkan pencapaian, tercatat sebagai imbal hasil 30 tahun terendah yang pernah ada”, bebernya.

Green Sukuk, menurut Menkeu, menunjukkan potensi untuk meningkatkan investasi publik dan swasta secara signifikan, membangun ketahanan ekonomi, mengurangi emisi karbon, dan dapat menjadi game changer di tengah pandemi Covid-19.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini