Jumlah Investor Pasar Modal Nyaris 3 Juta

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Kamis 14 Oktober 2021 13:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 14 278 2486228 jumlah-investor-pasar-modal-nyaris-3-juta-pY21KONmHV.jpg BEI catat investor pasar modal alami kenaikan (Foto:Shutterstock)

JAKARTA – Investor pasar modal Indonesia terus mengalami pertumbuhan di tengah pandemi Covid-19. Hal ini memberikan optimisme bahwa industri pasar modal berpeluang tumbuh positif di tahun depan.

Bahkan dengan mempertimbangkan pemulihan ekonomi ke depan, jumlah investor pasar modal akan terus tumbuh hingga tembus 3 juta investor.

Baca Juga: Dirut BEI Bangga, Jumlah Investor hingga Aktivitas Perdagangan Naik di Tengah Pandemi

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan, per September 2021, total jumlah investor saham mencapai 2,909 juta investor, naik 72% dibandingkan jumlah investor saham di 2020 yang sebanyak 1,695 juta investor. Melihat pertumbuhannya dari hari ke hari, jumlah investor saham ini diyakini akan segera mencapai 3 juta investor.

”Tadi saya sempat melihat untuk jumlah Single Investor Identification (SID) di saham. Per kemarin itu (12/10) sudah mencapai 2,983 juta investor. Jadi saya prediksi dalam 2 atau 3 hari ini, paling telat 3 atau 4 hari ini sudah mencapai 3 juta investor saham,” ujarnya.

Baca Juga: Investor Saham Makin Banyak, BEI Catat Jumlah SID Meningkat 69%

Disampaikannya, kontribusi investor ritel atau individu dalam pasar modal Indonesia dari tahun ke tahun juga terus menunjukkan peningkatan. Dalam investor ownership composition, selama periode Januari-September 2021 komposisinya adalah 46,2% institusi asing, 39,6% institusi domestik, dan 14% investor ritel. Sebagai perbandingan, di 2016 komposisinya investor institusi asing 54,1%, institusi domestik 37,6%, dan investor ritel 8,3%.

Sementara itu jika dilihat dari investor trading competition, selama periode Januari-September 2021, komposisinya investor ritel 63,5% dari rata-rata nilai transaksi harian (RNTH), investor institusi asing 21,8%, dan institusi domestik 14,7%.

Sebelumnya di 2016, komposisinya institusi asing 36,9%, ritel 36%, dan institusi domestik 27,1%.“Jadi kita lihat perkembangannya untuk investor ritel memang luar biasa, terutama sejak pandemi Covid-19,” kata Inarno.

Asal tahu saja, saat ini sebanyak 58% dari total investor pasar modal adalah generasi milenial dan generasi Z yang berusia di bawah 30 tahun. Kehadiran pemodal muda akan mendorong perkembangan pasar modal Indonesia meski di tengah pandemi Covid-19.

Selain kehadiran investor muda, pasar modal akan berkembang didorong oleh rencana Initial Public Offerings (IPO) dari beberapa perusahaan rintisan berbasis teknologi (start up) yang berstatus unicorn dan decacorn di samping Bukalapak. Realisasi IPO ini berpotensi mendongkrak kapitalisasi pasar emiten di Bursa Efek Indonesia.

OJK bersama BEI akan membuat regulasi yang sesuai dengan perusahaan rintisan yang diharapkan dapat membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat.“Hal ini tentu yang memberikan daya tarik tersendiri bagi investor, termasuk investor asing,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hoesen.

Bersamaan dengan itu, selain menyambut gembira kehadiran investor berusia muda, OJK juga akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pasar modal. Apalagi akhir-akhir ini semakin banyak investasi bodong yang mengaku telah mendapat izin dari OJK.

“Untuk itu kami berpesan kepada seluruh lapisan masyarakat sebelum berinvestasi di pasar modal, pelajari dan pahami dulu. Kita harus waspada terhadap investasi bodong atau ilegal, dan jangan mudah terbujuk rayuan atau janji-janji untuk mendapat imbal hasil yang tidak masuk akal,” imbuhnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini