Indeks Manufaktur Indonesia Pecah Rekor, Menperin: Kepercayaan Industri Bangkit

Rina Anggraeni, Jurnalis · Senin 01 November 2021 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 01 320 2494973 duplikasi-data-bpk-temukan-kelebihan-pembayaran-insentif-8-961-nakes-QEX61M38QP.jpg Industri Manufaktur Indonesia Bergeliat Lagi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kinerja sektor industri pengolahan nonmigas meningkat. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober bertengger di level 57,2 atau naik dibanding bulan September yang berada di peringkat 52,2.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan, melesatnya PMI manufaktur Indonesia pada bulan kesepuluh merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah manufaktur Indonesia. Posisi PMI di atas 50 menandai bahwa sektor manufaktur sedang mengalami fase ekspansi.

“Kami yakin kondisi sektor manufaktur yang ekspansif dapat dipertahankan, bahkan meningkat, karena perusahaan industri sudah kembali memacu produktivitas. Hal ini juga diperkuat dengan kondisi kesehatan masyarakat yang makin kondusif,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin (1/11/2021).

Baca Juga: Menperin Pamerkan 3 Sektor Industri Unggulan RI di Dubai Expo

Menperin menyampaikan, performa gemilang sektor industri manufaktur ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah dengan seluruh pemangku kepentingan terkait upaya pemulihan ekonomi.

“Artinya, kebijakan yang ditempuh dalam pengembangan industri di masa pandemi ini sudah berada di jalur yang benar, misalnya pemberian insentif fiskal dan nonfiskal yang dapat menigkatkan permintaan dan mengembalikan utilisasi,” terangnya.

Lebih lanjut, melonjaknya PMI adalah salah satu wujud optimisme yang tinggi dari para pelaku industri manufaktur dalam menilai prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Baca Juga: 100 Pabrik Sepatu Pindah dari Tangerang ke Jawa Tengah demi Upah Murah

“Kepercayaan diri dan daya adaptasi industri di masa pandemi terlihat dari bangkitnya kembali PMI manufaktur Indonesia ke level ekspansif sejak November 2020 dan terus menguat hingga Oktober 2021,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala BKF Febrio Kacaribu mengatakan PMI Manufaktur konsisten menuju arah pemulihan ekonomi yang terus menguat pada angka 57,2 setelah sebelumnya berada pada 52,2 di bulan September dan di 43,7 pada bulan Agustus.

“Angka tersebut menggambarkan kondisi usaha yang terus membaik di seluruh sektor manufaktur Indonesia. Penurunan kasus Covid-19 yang berakibat pada pelonggaran pembatasan aktivitas disinyalir telah menyebabkan peningkatan aktivitas sektor manufaktur bulan Oktober berdampak positif pada ekonomi dan masyarakat sejahterah,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu di Jakarta.

Per 31 Oktober 2021, kasus harian rata-rata sudah kembali ke tiga digit di angka 523 kasus harian dengan total 12.318 kasus aktif. Angka rata-rata vaksinasi harian juga sangat menggembirakan yaitu mencapai 2 juta suntikan per hari. Saat ini, sudah 73.806.588 orang yang mendapatkan vaksinasi lengkap atau setara dengan 35,44% dari total target 208.265.720 orang untuk mendapatkan kekebalan kelompok. Peningkatan situasi penanganan pandemi ini merupakan hasil kerja keras semua pihak dalam penanganan pandemi.

"Output dan permintaan baru mencatatkan rekor di bulan Oktober seiring dengan membaiknya situasi Covid-19," katanya.

Namun demikian, permintaan ekspor baru masih mengalami kontraksi karena adanya gangguan pandemi dan hambatan pengiriman (shipping) yang terus mempengaruhi permintaan ekspor. Permintaan yang menguat membuat perusahaan manufaktur memperluas kapasitas operasi dengan meningkatkan jumlah tenaga kerja untuk pertama kali dalam empat bulan.

Namun demikian, akumulasi penumpukan pekerjaan masih sedikit meningkat karena kenaikan tenaga kerja belum dapat menutupi tingginya kenaikan permintaan.

Baik kuantitas maupun stok pembelian mencatatkan kenaikan yang mencetak rekor. Sementara itu, stok barang jadi menurun karena tingginya permintaan belum dapat diikuti dengan kenaikan input. Kurangnya pasokan menyebabkan terjadinya inflasi input dalam delapan tahun terakhir, dengan banyak perusahaan menyebutkan kenaikan biaya bahan baku. Kenaikan inflasi input ini membuat perusahaan meneruskan sebagian beban biaya kepada klien sehingga biaya output juga tercatat meningkat, meski lebih lambat dibandingkan September.

Secara umum, sentimen bisnis secara keseluruhan membaik didorong harapan atas terus memulihnya situasi Covid-19.

“Untuk itu, Pemerintah harus terus mempertahankan kerja kerasnya terkait penanganan Covid-19 dan vaksinasi agar kasus terus terkendali, terutama dengan adanya libur Natal di depan. Kerja sama masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan juga harus terus didorong untuk mendukung pemulihan sektor manufaktur lebih lanjut”, pungkasnya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini