Jelang Tutup Tahun, Jokowi Minta Anak Buahnya Percepat Belanja Anggaran

Dita Angga R, Jurnalis · Rabu 17 November 2021 17:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 17 320 2503361 jelang-tutup-tahun-jokowi-minta-anak-buahnya-percepat-belanja-anggaran-yR3owQitzG.jpg Presiden Joko Widodo. (Foto: Okezone.com/Setkab)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan jajarannya agar anggaran baik di pusat maupun daerah segera direalisasikan. Mengingat saat ini sudah di penghujung tahun.

“Saya minta ini agar sudah bulan November, masuk ke Desember jadi percepat realisasi APBN dan APBD,” katanya dalam Sidang Kabinet Paripurna, Rabu (17/11/2021).

Baca Juga: APBN Tekor Rp548,9 Triliun per Oktober 2021, Setara 3,29% dari PDB

“APBN, artinya setiap kementerian/lembaga harus konsentrasi mempercepat realisasi ini,” lanjutnya.

Dia meminta agar Menteri Dalam Negeri (mendagri) memantau daerah-daerah yang serapan anggarannya masih kecil.

Baca Juga: Ekonomi Bergerak, Pendapatan Negara Melonjak Jadi Rp1.510 Triliun

“Kemudian mendagri lihat APBD-APBD yang masih serapan anggarannya masih kecil juga berikan perhatian. Tekankan pada mereka bahwa APBD itu penting untuk pertumbuhan ekonomi kita,” ungkapnya.

Jokowi menyebut ada beberapa pos anggaran yang perlu digenjot realisasinya. Misalnya terkait realisasi dana perlindungan sosial baru mencapai 77% dari DIPA.

“Kemudian program padat karya baru mencapai 67%. Dukungan untuk UMKM dan korporasi baru mencapai 60%,” pungkasnya. 

Sebelumnya, Rasio defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menurun hingga 3,29% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Oktober 2021 atau mencapai Rp548,9 triliun.

"Ini adalah sesuatu yang kita lihat defisit APBN menurun dibanding Oktober tahun lalu yang sebesar 4,67% terhadap PDB," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, dikutip dari Antara, di Jakarta, Selasa (16/11/2021).

Sri Mulyani pun berharap defisit anggaran pada tahun ini bisa tetap terkendali di atas 5% PDB, menurun dibanding realisasi tahun lalu yang berada di atas enam persen PDB. Defisit anggaran terjadi karena belanja negara yang masih sedikit lebih tinggi yakni Rp2.058,9 triliun daripada penerimaan negara Rp1.510 triliun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini