Share

Presiden Jokowi Sangat Yakin Perdagangan RI Surplus dengan China

Dita Angga R, Jurnalis · Kamis 18 November 2021 14:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 18 320 2503775 presiden-jokowi-sangat-yakin-perdagangan-ri-surplus-dengan-china-sOFHcmuqpt.jpg Presiden Jokowi Yakin Neraca Perdagangan RI Surplus. (Foto: Okezone.com/Pelindo)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin hilirisasi bahan mentah di Indonesia terus meningkat. Dia mengatakan, penyetopan ekspor nikel dan mengolahnya menjadi besi baja, nilai produknya meningkat menjadi 10 kali lipat.

“Sehingga kita ingat, sekarang ini lompatan ekspor kita tinggi sebenarnya dari sini. Sampai akhir tahun perkiraan saya bisa USD20 miliar. Karena di bulan Oktober ini USD16,5 miliar. Akhir tahun perkiraan saya, estimasi saya bisa USD20 miliar. Hanya dari kita stop nikel. Dan perkiraan nanti kalau jadi barang -barang yang lain, perkiraan saya bisa USD35 miliar. Hanya dari satu barang,” katanya dalam Acara Kompas100 CEO Forum 2021, Kamis (18/11/2021).

Baca Juga: Neraca Perdagangan Indonesia Surplus Lagi Capai USD5,73 Miliar pada Oktober 2021

Dia mengatakan, untuk besi baja ini merupakan salah satu tingginya defisit perdagangan Indonesia dengan China. Namun dengan adanya hilirisasi tersebut defisit neraca perdagangan semakin bisa ditekan.

Bahkan Jokowi yakin bahwa tahun depan Indonesia akan surplus neraca perdagangannya dengan China.

“Saya berikan contoh ini yang besi baja. Ini yang menyebabkan defisit perdagangan kita dengan RRT itu tinggi gara-gara ini. Kita di 2018 itu minus USD18,4 miliar. 2020 sudah minus 7,85. Langsung turun. Ini dari mana ini? Dari besi baja, dari nikel yang jadi barang itu. Di 2021 sampai Oktober ini tinggal minus USD1,5 miliar. Nanti tahun depan 2022 saya yakin kita sudah plus terhadap, sudah surplus perdagangan kita dengan RRT. Saya yakin itu,” ungkapnya,

Baca Juga: 4 Fakta Neraca Dagang RI Surplus USD4,37 Miliar, 17 Bulan Berturut-turut!

Dia pun yakin jika hilirisasi dilakukan untuk bahan mentah lainnya maka neraca perdagangan Indonesia akan semakin baik. Dia pun heran mengapa selama berpuluh-puluh tahun tidak ada langkah hilirisasi.

“Begitu bauksit nanti juga sama. Begitu tembaga juga sama. Kenapa berpuluh-puluh tahun tidak kita lakukan ini. Sehingga nanti neraca perdagangan kita baik, neraca transaksi berjalan kita menjadi semakin baik,” tuturnya.

Menurutnya saat tidak ada alasan menunda hilirisasi meskipun mungkin ada harga komoditas yang sedang naik. Namun menurutnya langkah ini merupakan strategi perusahaan.

“Kalau kita lakukan itu untuk bauksit, untuk tembaga, untuk timah, rare earth semuanya, bapak ibu bisa bayangkan devisa kita nanti akan seperti apa. Inilah strategi yang kita semuanya harus sama. Jangan ada yang pak, ini kita ga bisa ekspor lagi nikel, harganya pas baik. Ya, tapi dalam strategi besar negara kita memerlukan ini, kita tidak berbicara perusahaan per perusahaan,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini