Share

Era Digital, Ridwan Kamil: Tinggal di Desa Rezeki Kota

Agung Bakti Sarasa, Jurnalis · Jum'at 03 Desember 2021 10:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 03 320 2511241 era-digital-ridwan-kamil-tinggal-di-desa-rezeki-kota-v73HDve2nG.jpg Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Foto: Okezone.com/Pemprov Jabar)

JAKARTA - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan strategi memangkas ketimpangan di Jawa Barat. Di mana Jabar mendapat dukungan pemerintah untuk mengakselerasi pembangunan di bagian selatan dan utara.

Dukungan itu terwujud dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Metropolitan Rebana dan Jabar selatan.

Menurutnya, perpres tersebut menjadi landasan dan payung hukum dalam mempercepat pembangunan dua kawasan ekonomi baru tersebut. Lewat perpres, pemerintah pusat juga menjamin anggaran pembangunan hingga hampir Rp400 triliun dalam tiga tahun ke depan.

Baca Juga: Ekonomi RI Lewati Titik Terendah, Menko Airlangga Sebut E-commerce dan Startup Jadi Kekuatan Baru

"Ke utara untuk lompatan karena future of West Java itu di utara, ada 13 kota baru. Setengah dari Rp400 triliun ke Jabar selatan yang masih tertinggal. Itu sekarang, kami punya modal itu," katanya, dalam Fisipol Leadership Forum di Kampus Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (3/12/2021).

Gubernur yang akrab disapa Kang Emil juga menuturkan bahwa untuk memangkas ketimpangan Jabar bagian utara dan selatan, Pemprov Jabar melakukan revolusi digital.

"Maka sekarang ada program Petani Milenial. Wahai anak-anak kota, desa, jangan hijrah ke kota. Pak, penghasilan di desa kecil dibanding kota. Tapi dengan skill digital, persepsi itu berubah, kenapa? Anda bisa tinggal di desa, jualan di kota melalui digital. Maka slogannya, tinggal di desa, rezeki kota, bisnis mendunia," tutur Kang Emil.

Baca Juga: Ekonomi Digital Indonesia Akan Tumbuh Jadi Rp4.531 Triliun

Selain itu, dirinya juga mengungkapkan soal tantangan menjadi seorang pemimpin Indonesia sangat beragam. Apalagi di era yang penuh dengan keterbukaan informasi saat ini. Mulai dari tantangan kesehatan masyarakat, investasi, ekonomi, dan sebagainya. Hal tersebut membuat seorang calon pemimpin harus memiliki strategi-strategi jitu untuk mengatasi berbagai problem mendatang, yang pasti semakin kompleks. 

"Berbagai strategi yang harus dihadapi itu setidaknya ada tujuh. Harus jadi juara investasi, kedaulatan pangan, infrastruktur kesehatan, manufakturing 4.0, digital,  ekonomi hijau, dan pariwisata regional," tuturnya.

Lebih lanjut, Ridwan Kamil juga mengatakan, salah satu ciri pemimpin adalah harus visioner. Emil juga mengajak untuk belajar dari Bung Karno yang memiliki pemikiran jangka panjang. Menjalankan politik arsitektur. Selain itu, ia juga menjelaskan, ia memiliki filosofi politik dengan dua nilai. Akal sehat dan tahu diri. 

"Filosofi akal sehat kadang membuat saya melawan arus. Contohnya ketika saya menolak pemerintah Indonesia mau mengimpor beras, karena petani di Jabar, petani beras. Sementara politik tahu diri adalah saya harus memahami kekurangan saya dan melihat apa yang ada di depan mata saya, sehingga tidak melakukan hal-hal yang jauh melebihi apa yang ada di depan mata dan akal sehat," lanjutnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini