RI Punya Emas Hijau! Bikin Kaya Mendadak

Solopos.com, Jurnalis · Rabu 08 Desember 2021 20:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 08 622 2514073 ri-punya-emas-hijau-bikin-kaya-mendadak-7gtxwW9afj.jpg Produksi Vanili (Foto: Solopos.com)

JAKARTA - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulonprogo terus mendorong produksi vanili petani lokal karena komoditas tersebut memiliki nilai jual tinggi.

Bahkan, vanili Kabupaten Kulonprogo ini mendapat julukan emas hijau karena nilai jual tinggi. Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulonprogo optimistis perekonomian petani lokal akan meningkat lewat vanili.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Muhammad Aris Nugroho, mengatakan upaya pengembangan vanili dilaksanakan tahun mendatang. Konsep pengembangannya melalui agro eduwisata.

Aris menyebut vanili tak hanya diminati pasar dalam negeri, tetapi juga luar negeri. “Kami akan mulai pengembangan vanili pada 2022. Tahap pertama, kami akan sosialisasi. Kami ingin vanili menjadi emas hijau Kulonprogo lagi,” kata Aris saat dikonfirmasi pada Rabu (8/12/2021).

Emas hijau Kulonprogo itu ditanam di Pegunungan Menoreh. Lahan di Menoreh disebut-sebut cocok untuk menanam bibit vanili.

Aris mengklaim Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo telah menyiapkan konsep program agro eduwisata vanili di Kulonprogo. Nantinya, warga dan wisatawan yang datang akan mengetahui vanili mulai dari tanam hingga produk siap jual.

“Total di DIY itu lahan pertanian vanili sekitar 14 hektare. Selain Kulonprogo, di DIY ini ada di Sleman. Lahan vanila di Kulonprogo ada di Kapanewon Samigaluh, Kokap, Girimulyo, dan Kalibawang. Samigaluh terluas. Total luas lahan [di Samigaluh] mencapai sembilan hektare,” jelas Aris.

Ia menceritakan bahwa vanili termasuk komoditas yang bisa menghasilkan cuan cukup banyak bagi petani. Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo menyebut harga vanili basah di pasaran mencapai ratusan ribu rupiah.

Harga Jual Vanili

“Vanili bernilai ekonomi tinggi. Vanili basah itu di pasaran mencapai Rp200.000 hingga Rp500.000 [per kilogram]. Kalau diolah menyentuh angka Rp2 jutaan lebih. Bagaimana meningkatkan pendapatan petani vanili itu masih menjadi PR [pekerjaan rumah] kami. Agro climate di Kulonprogo cocok untuk membudidayakan vanili,” papar Aris.

Aris menuturkan petani vanili Kulonprogo mampu memproduksi vanili kering mencapai dua ton pada 2020. Angka tersebut terbilang rendah. Oleh karena itu, dia menargetkan peningkatan kapasitas produksi pada 2022.

“Produksi vanili kering di Kulonprogo hanya dua ton. Itu terbilang rendah. Kami akan mendorong produktivitas vanili dengan melakukan intensifikasi pengolahan dan pemasaran produk. Sehingga capaian produksi vanili bisa melonjak,” tutur dia.

Kepala Dinas Kominfo Kulonprogo, Agung Kurniat, tidak menampik vanili Kulonprogo termasuk komoditas unggulan sehingga harus diberi panggung agar pasar bisa mengenali vanili Kulonprogo.

“Terkait pemasaran vanili juga menjadi hal yang tidak luput dari perhatian. Jangkauan produk vanili tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga belahan bumi lain diharapkan tertarik dengan komoditas unggulan Kulonprogo ini,” ujar Agung.

Anggota Kelompok Tani Ayem, Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Surasa, 59, mengatakan vanili baru bisa panen setelah berumur satu sampai dua tahun. Menurut Surasa harga komoditas vanili bagus di pasaran.

Bahkan, seringkali ia mendapatkan harga di atas rata-rata. “Saya mendapatkan harga Rp325.000 per kilogram vanili basah. Ini [budidaya vanili] cukup menggiurkan. Budidaya vanili mudah namun membutuhkan ketelitian,” cerita Surasa.

Dia menjelaskan metode budi daya vanili bisa dilakukan melalui stek atau sulur panjang. “Panjangnya satu meter. Perawatan tanaman vanili gampang. Tidak membutuhkan pemberantasan hama kimiawi. Secara alami, hama sudah bisa dicegah.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini