Share

Transformasi Digital, OJK Pelototi Platform 'Palugada'

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Minggu 19 Desember 2021 16:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 19 320 2519398 transformasi-digital-ojk-pelototi-platform-palugada-WGq5qz240h.jpg OJK (Foto: Okezone)

JAKARTA - Bisnis platform 'palugada' kini bermunculan di era digitalisasi. Satu platform mempunyai fitur lengkap dari pembayaran hingga investasi.

Istilah palugada memang tidak asing dalam bisnis. Sebab ini merupakan model usaha yang tidak membatasi penawaran pada satu jenis barang atau jasa. Model bisnis ini melihat apa saja permintaan pasar dan mengambil bermacam kesempatan bisnis dari sana.

Hal inilah yang menjadi isu utama bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) soal arah pengembangan transformasi digital ke depan.

Tiga isu utama tersebut adalah integrasi, disrupsi, dan capacity.

Baca Juga: OJK Buka-bukaan soal Pencabutan Moratorium Izin Pinjol

"Terkait integrasi ini kita lihat sekarang ini ada platform yang menawarkan jasa service berbeda-beda. Sebagai contoh, satu platform transportasi yang kita bisa pesan secara digital, itu ada masalah teknologi (regulasinya) di Kominfo. Kemudian platform fintech terkait sistem pembayaran di Bank Indonesia (BI). Dan di dalamnya ada ada juga pembiayaan. ini tentu pengawasan oleh OJK," kata Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida dalam FGD dengan tema Inovasi Keuangan Digital dan Digitalisasi Pengawasan Sektor Jasa Keuangan di Bukittinggi, Sumatera Barat, Sabtu (18/12/2021).

Nurhaida menambahkan, satu platform tersebut bisa diawasi oleh beberapa regulator, sehingga para regulator seperti Kominfo, BI, dan OJK perlu bersinergi untuk mengawasi platform tersebut.

Sementara disrupsi adalah perubahan besar-besaran yang terjadi di sektor keuangan. Salah satu contoh adalah kerja sama BPR dan fintech. Sebelumnya, BPR dalam menyalurkan kreditnya terbatas oleh wilayah BPR tersebut beroperasi.

Baca Juga: Digitalisasi, Masyarakat Tak Lagi ke Bank! Tinggal Pakai Jempol Bisa Buka Rekening

"Tapi pas kerja sama dengan fintech, fintech jangkauan luas, maka kemudian ketentuan/ kebiasaan BPR melakukan penawaran di wilayahnya kemudian bisa tawarkan di luar wilayah yang ditentukan," katanya.

Kemudian soal capacity. Nurhaida mengatakan, digital talent menjadi sangat penting bagi industri keuangan termasuk OJK sendiri. Oleh karena itu, pihaknya telah mempunyai program pengembangan capacity untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM).

"Memang jadi itu beberapa hal yang ingin saya sampaikan untuk arah ke depan seperti apa di 2022. Terkait pengembangan ke depan, untuk isu utama dalam perhatian kita di transformasi digital. Isu utama terkait integrasi dan disrupsi dan capacity, tiga ini harus kita address dengan baik," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini