Share

Mengejutkan! Garuda Indonesia Pakai Avtur Eceran

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Selasa 21 Desember 2021 11:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 21 320 2520252 mengejutkan-garuda-indonesia-pakai-avtur-eceran-w2MOOoM5Zd.jpg Pertamina Stop Avtur Garuda Indonesia. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dikabarkan menggunakan bahan bakar (avtur) eceran untuk mengoperasikan 11 armada pesawatnya. Hal ini usai PT Pertamina (Persero) memutuskan tak lagi memasok avtur kepada Garuda Indonesia.

Kabar tersebut disampaikan Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan. Dia mengungkapkan bahwa jumlah pesawat Garuda saat ini mencapai 40 armada.

Jumlah itu menurun signifikan. Dari laporan Kementerian BUMN pada awal November 2021 lalu, jumlah pesawat yang dioperasikan mencapai 50-60 pesawat.

Baca Juga: Hanya Punya 11 Pesawat, Pertamina Stop Avtur Garuda Indonesia

Sementara armada di parkiran ada sebanyak 125 pesawat, terdiri 119 pesawat sewa dan 6 pesawat milik sendiri. Namun, Dahlan menyebut pesawat yang dioperasikan emiten dengan kode saham GIAA itu hanya 11 armada saja.

Dahlan menilai, penurunan jumlah pesawat yang beroperasi karena Pertamina selaku BUMN di sektor energi dan migas tak lagi menyuplai bahan bakar kepada Garuda Indonesia. Penghentian itu menyusul utang avtur yang belum dibayarkan maskapai mencapai Rp16 triliun.

Baca Juga: Jreng! BEI Bakal Delisting Saham Garuda Indonesia (GIAA)

"Pertamina sudah terlalu baik pada Garuda. Bagaimana dengan yang sebelas pesawat itu? Kok masih bisa terbang? Saya pun mencari info kanan-kiri. Siapa tahu Pertamina kembali jatuh kasihan. diberi lagi bahan bakar. Biarpun sekadarnya untuk 11 pesawat," ujar Dahlan, dikutip Selasa (21/12/2021).

Ternyata, Pertamina tidak lagi memasok bahan bakar. Satu-satunya toleransi yang masih diberikan Pertamina adalah memberikan BBM, namun harus dibayar kontan. Artinya, sebelum ada uang masuk ke rekening Pertamina, BBM tidak akan dikucurkan. Seberapa masuknya uang, segitulah BBM yang diisikan ke pesawat.

Dahlan berhitung, berapa pemasukan yang diterima Garuda. Lalu, berapa yang bisa disisihkan untuk membeli BBM eceran. Untuk keperluan besok, berapa pesawat yang akan terbang disesuaikan dengan berapa uang untuk BBM eceran hari itu.

Dia menilai hal itu mirip cara percetakan menyikapi utang penerbit surat kabar. Penerbit tidak tiap hari membayar ongkos cetak. Tunggu tagihan satu bulan. Walaupun belum bisa bayar koran harus tetap terbit setiap hari. Utang ke percetakan pun menumpuk, kian sulit ditagih.

"Saya pun mikir, siapa ya yang selalu telepon ke Pertamina agar tetap melayani permintaan BBM Garuda? Masak sih Pertamina tidak pernah mengancam Garuda?," tanya dia.

Dahlan sendiri tidak bisa menduga salah satu pihak. Garuda, lanjut dia, itu punya banyak bos. Tidak hanya kementerian BUMN selaku pemegang saham mayoritas. Namun, Garuda punya banyak bos yang dia pandang bisa menyelamatkan keuangannya.

"Kementerian BUMN akhirnya membiarkan Garuda digugat ke PKPU. Dengan demikian bisa jelas kapan Garuda bisa tetap baik-baik saja atau tidak baik-baik saja. PKPU sudah menetapkan waktu 45 hari. Terhitung pekan lalu. Dalam 45 hari itu harus sudah ada kesepakatan antara Garuda dan para pemilik piutangnya. Kalau dalam 45 hari tidak terjadi kesepakatan, PKPU yang ambil putusan Garuda dinyatakan bangkrut, atau putusan lainnya. Tinggal menghitung hari," ungkap Dahlan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini